Text Line

Kita Bangsa yang Besar, Jangan Mudah Untuk Diadu Domba

Teks

Mohon Maaf Jika Anda Kurang Nyaman, Karena Blog Masih Dalam Perbaikan
Tampilkan postingan dengan label Muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslim. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Agustus 2015

Kata Mutiara Qalbu




“Jika Allah Subhanahu Wata'ala mentakdirkan sesuatu itu menjadi milikmu, niscaya tiada siapa yang boleh menghalangnya, tapi jika Allah Subhanahu Wata'ala mentakdirkan sesuatu itu bukan menjadi milikmu, niscaya tiada siapa yang dapat membantu.” 


“Kita tidak boleh mencegah burung terbang di atas kepala kita, tetapi kita tidak perlu membiarkannya membuat sarang di rambut kita. Kita tidak mungkin tidak boleh membendung hal-hal buruk yang diluar kemampuan kita untuk mengatasinya, tetapi paling tidak kita harus boleh mengatasinya untuk tidak terjadi yang lebih buruk lagi.” 


“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, kerana itu damaikanlah di antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” 


-Surah Al-Hujuraat- 

“Carilah cinta Allah, niscaya kita akan berkasih sayang.” 


“Dalam mengejar seribu impian, ketabahan hati dan ketenangan fikiran menjadi teraju utama dalam merealisasikannya.” 


“Tidak di ubah Qada’ melainkan doa’ dan tidak dipanjangkan usia melainkan dengan perbuatan yang baik.” 


“Cinta tidak semestinya memiliki, tapi cintakan Allah itulah yang hakiki.” 


“Hargailah masa yang masih ada. Kedang kala peluang itu hanya datang sekali saja. Jadi gunakanlah peluang yang ada sebaik mungkin.” 


Gagal dalam kemuliaan adalah lebih baik daripada menang dalam kehinaan. Orang yang gagal sekali-kali tidak rugi, selagi dia belum berputus asa. Kalau sekali maksud belum sampai, janganlah patah harapan.


Kata-kata Hikmah 
  • Budi pekerti baik membaguskan mata pencaharian.
  • Ucapan halus kunci rizqi.
  • Budi pekerti baik menimbulkan kasih sayang.
  • Dengan bersifat halus dan kasih sayang akan mendapat kemulyaan yang luhur. 
  • Ucapan Adil menarik keagungan.
  • Kemuliyaan paling baik adalah ampunananya orang yang mampu membalas. 
  • Siapa yang ridho dengan keputusan Allah maka tidak akan membenci orang lain. 
  • Orang qona’ah (menerima rizqi apa adanya) tidak akan hasud (iri hati).
  • Hasud (iri hati) terhadap nikmat teman termasuk orang yang mempunyai cita-cita rendah.
  • Hasud adalah teman yang paling jelek.
  • Merendahkan teman menimbulkan jauh.
  • Orang paling utama adalah yang bisa mengalahkan syahwatnya.
  • Barang siapa yang menjadi dermawan maka diangkatlah derajatnya. 
  • Kebaikan paling utama adalah menolong orang susah.
  • Orang dermawan dicintai Orang, Orang pelit di benci Orang.
  • Orang jauh (bukan saudara) menenangkan hati, lebih baik dari orang dekat menyusahkan hati.
  • Penataan baik, sebagian dari harta, penataan jelek penyebab kerusakan.
  • Memberi kemanfa’atan menimbulkan rasa cinta, memberi bahaya menimbulkan rasa benci.
  • Dermawan menimbulkan pujian, pelit menimbulkan cacian.
  • Perlahan-lahan memudahkan pencarian.
  • Sombong menimbulkan kebencian.rendah hati menimbulkan keluhuran.
  • Semua orang tidak lepas dari orang yang memuji, mencela, menyukai dan membenci.
  • Pembohong akan dicurigai walaupun ucapannya benar.
  • Luka ucapan akan sulit sembuhnya dari pada luka pedang.
  • Anggaplah sesuatu yang besar kejelekan kecilmu yang menimpa orang lain, dan anggaplah sesuatu yang kecil kejelekan orang lain yang menimpamu.
  • Barang siapa malas maka sia-sia cita-citanya.
  • Jadilah orang yang banyak diam dan jujur, diam sebagai penjaga dan jujur agar menjadi mulia.
  • Siapa banyak ucapannya maka akan tercela, siapa banyak meminta maka akan terhalang, siapa merendahkan temannya maka hina.
  • Siapa berani kepada sultannya maka akan dibunuh.
  • Tidak mulia orang yang merendahkan tetangganya.
  • Tidak bahagia orang yang tidak memberi pertolongan kepada temannya.
  • Sebaik-baik pemberian adalah pemberian sebelum adanya permintaan.
  • Siapa menyebut-nyebut kebaikannya maka gugurlah syukurannya.
  • Siapa Ujub (merasa hebat) dengan amalnya maka dihapus pahalanya. 


KATA - KATA HIKMAH KHULAFA' UR RASYIDIN 

Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A. Berkata : 

Orang yang bakhil (pelit) itu tidak akan terlepas daripada salah satu daripada 4 sifat yang membinasakan, yaitu: 
  • Ia akan mati dan hartanya akan diambil oleh warisnya, lalu dibelanjakan bukan pada tempatnya.
  • Hartanya akan diambil secara paksa oleh penguasa yang zalim.
  • Hartanya menjadi rebutan orang-orang jahat dan akan dipergunakan untuk kejahatan pula.
  • Adakalanya harta itu akan dicuri dan dipergunakan secara berfoya-foya pada jalan yang tidak berguna. 

Sayyidina Umar Ibnu Al-Khattab R.A. berkata : 
  • Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya. 
  • Orang yang suka menghina orang lain, dia juga akan dihina. 
  • Orang yang menyintai akhirat, dunia pasti menyertainya. 
  • Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga. 

Sayyidina Usman Ibnu Affan R.A. berkata : 
Antara tanda-tanda orang yang bijaksana itu ialah: 
  • Hatinya selalu berniat suci.
  • Lidahnya selalu basah dengan zikrullah.
  • Kedua matanya menangis kerana penyesalan (terhadap dosa).
  • Segala perkara dihadapainya dengan sabar dan tabah.
  • Mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia.

Sayyidina Ali Ibnu Abi Thalib R.A. berkata : 
  • Tiada solat yang sempurna tanpa jiwa yang khusyu'.
  • Tiada puasa yang sempurna tanpa mencegah diri daripada perbuatan yang sia-sia.
  • Tiada kebaikan bagi pembaca al-Qur'an tanpa mengambil pangajaran daripadanya.
  • Tiada kebaikan bagi orang yang berilmu tanpa memiliki sifat warak (memelihara diri dan hati- hati dari dosa).
  • Tiada kebaikan mengambil teman tanpa saling sayang-menyayangi.
  • Nikmat yang paling baik ialah nikmat yang kekal dimiliki.
  • Doa yang paling sempurna ialah doa yang dilandasi keikhlasan. 

Barangsiapa yang banyak bicara, maka banyak pula salahnya,siapa yang banyak salahnya, maka hilanglah harga dirinya, siapa yang hilang harga dirinya, berarti dia tidak warak. Sedang orang yang tidak warak itu berarti hatinya mati.

Mengenang Khattab, Mujahid Chechnya Yang Selalu Mencari Kesyahidan


Mansour Al-Suwailem, saudara kandung dari mujahid terkemuka dari Chechnya: Khattab, yang insyaAllah syahid terbunuh oleh Rusia, kesyahidannya berawal dari nasehat seorang wanita tua untuk memperjuangkan Chechen.

Nama asli Khattab adalah Samir Saleh Abdullah Al-Suwailem. Pada masa pemudanya ia ingin belajar ke Amerika Serikat. Mansour menjelaskan beberapa aspek kehidupan pribadi Khattab dalam sebuah wawancara dengan Arab News.

Wawancara dilakukan di rumah ayahnya di Alkhobar di Provinsi Timur Saudi.

Mansour mengatakan Khattab selalu menemui ibunya di Arab Saudi sebelum ia melakukan serangan terhadap Rusia. Pada tahun itu, televisi pemerintah Rusia menyiarkan gambar tubuh Khattab dan berkata dia telah tewas dibunuh pada 19-20 Maret setelah operasi militer selama setahun oleh pasukan khusus Rusia. Stasiun TV ini mengatakan ia tidak meninggal dalam pertempuran, tapi TV itu tidak merinci bagaimana dia meninggal. Khattab adalah komandan Mujahidin yang paling ditakuti sejak pasukan Rusia melakukan penyerangan terhadap perjuangan kemerdekaan Chechnya .

Mansour mengatakan ada dua informasi yang berbeda tentang bagaimana adiknya telah dibunuh. Menurut satu laporan, ia terbunuh setelah membuka surat beracun yang diberikan kepadanya oleh seorang pembantu terpercayanya dua bulan yang lalu. Laporan kedua mengatakan bahwa ia diberi makanan beracun di sebuah acara sajian sekitar sebulan yang lalu. Terakhir kali Samir menelepon keluarganya adalah tiga bulan lalu. Dia telah mengunjungi Arab Saudi hanya dua kali sejak ia memutuskan untuk pergi ke Afghanistan pada tahun 1987.

“Dia menelepon orang tua kami setiap kali ia punya kesempatan dan khusus menemui ibu kami sebelum melakukan operasi apapun,” tambahnya. Samir adalah anak muda ambisius yang punya impian memiliki sebuah rumah besar dengan garasi untuk lima mobil”. Dia juga ingin semua anggota keluarga untuk hidup bersama dan selalu memperhatikan kesejahteraan semua anggota keluarga dan ia dicintai oleh semua keluarga.

Tidak ada yang ingat dia pernah terlihat marah. Dia suka membuat lelucon dan ia sering bermain dengan anak-anak.

Samir, yang lahir di Arar, kota perbatasan utara di Arab Saudi pada tahun 1969, adalah seorang mahasiswa cemerlang yang mencetak nilai rata rata 90an dalam ujian sekolah menengah.

Tidak seperti anggota keluarga mampu arab lainnya, ia lebih tertarik pada majalah dan kaset Islam. Dia sangat terkesan dengan sejarah Khalifah Umar bin Al-Khattab (ra dengan dia) dan karena itu menjuluki namanya dengan Khattab. Dia bergabung dengan kursus pelatihan perminyakan yang dilakukan oleh Aramco. Ia berencana untuk melanjutkan studi di Amerika Serikat. Ia berprinsip harus menjadi orang baik dan bermanfaat untuk orang lain.

Suatu ketika, ia bertemu orang asing, seorang ekspatriat Sudan, ia meminta tumpangan di jalan untuk ke bandara. Pria itu mengatakan mobilnya mogok dan ia takut ia tidak dapat mencapai pelabuhan udara, untuk itu ia meninggalkan mobilnya di jalan. Setelah membawanya dengan kendaraan umum ke bandara, Samir kembali ke mobil yang ditinggalkan dan mobil itu diderek ke bengkel untuk perbaikan. Ketika pria Sudan kembali ia terkejut menemukan mobilnya sudah diperbaiki. Samir menolak untuk menerima biaya perbaikan.

Mansour tidak bisa memberikan alasan spesifik untuk perubahan mendadak Samir tentang beralihnya rencana untuk pergi ke Amerika Serikat untuk studi. Tiba tiba samir bergabung dengan mujahidin Arab ke Afghan untuk melawan Rusia pada saat Samir berusia 17 tahun pada tahun 1987.

Anak laki-laki muda yang menolak untuk pulang ke Saudi walau ayahnya menjanjikan untuk membelikan rumah. Dia tidak mengunjungi Saudi dalam 14 tahun terakhir kecuali hanya dua kali kunjungan, yang terakhir pada tahun 1993. Dia pernah alami luka serius sebanyak empat kali dan yang paling serius adalah ketika dia menginjakkan kaki di atas sebuah ranjau darat. Dia adalah satu-satunya yang selamat saat truknya meledak, demikian dilaporkan.

Mansour menjelaskan bagaimana Samir mendapat ide untuk pergi ke Chechnya setelah menonton siaran berita di TV Afghanistan. Siaran berita menunjukkan beberapa kelompok Chechnya memakai ikat kepala dengan “Tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya” ditulis pada seutas kain yang mengikat kepala mereka. Mereka berteriak Allahu Akbar, Allahu Akbar. Samir merasa penasaran dengan jihad yang terjadi di Chechnya dan memutuskan untuk pergi ke sana. Tapi dia tidak tahu bagaimana untuk pergi ke sana dan peta yang dibelinya tidak menunjukkan Chechnya. Jadi dia berangkat ke Azerbaijan yang dekat dengan wilayah Chechnya.

Sementara ia masih bingung tentang bagaimana untuk mencapai Chechnya, ia menerima surat dari Fathi Abu Sayyaf, mujahid Chechnya asal Yordania , Sayyaf menulis, “seorang pria yang masuk ke wilayah jihad dan kemudian keluar dari wilayah itu layaknya seperti terlahir kembali. “


Entah bagaimana, ia berhasil mencapai Chechnya walaupun ia pertama kali pergi. Kemahiran dalam bahasa Arab, Rusia, Inggris, dan Pashtu membantunya bergaul dengan segala macam orang. Dalam perjalanannya dia juga bertemu dengan Shamil Basayev.

Ia bertemu dengan seorang wanita Chechnya tua yang menekankan perlunya jihad melawan Rusia. Dia mengatakan kepadanya dengan percaya diri: “Kami ingin orang Rusia itu pergi dari tanah kami di Chechnya agar kami bisa kembali kepada Islam.”

Ketika ia bertanya kepada wanita tua itu bagaimana ia akan membantu dalam jihad melawan Rusia, jawabannya adalah bahwa ia (wanita tua) itu hanya memiliki jaket dan dia akan menyumbangkannya untuk jalan Allah.

Samir menangis tersedu-sedu sampai “jenggotnya menjadi basah dengan air mata” setelah ia berbicara kepada perempuan itu, dan bahwa pertemuan itu telah menjadi titik balik dalam hidupnya.

Tindakan Khattab didasarkan pada prinsip-prinsip yang kuat tertentu yang diambil dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Mereka menyimpulkan sebagai berikut: Tujuan jihad harus pembentukan agama Allah, tidak ada negosiasi dengan musuh, pertarungan jihad tidak akan berakhir hingga ancaman musuh benar-benar dihapus, jihad tidak tergantung pada kehidupan seorang pemimpin, kepemimpinan tidak berarti posisi yang nyaman, persatuan adalah yang paling penting yang diperlukan untuk melawan Rusia. Dia juga menekankan perlunya untuk mengobati warga sipil dengan lemah lembut dan tidak melakukan kerusakan kepada mereka.


Samir telah mencari kesyahidan selama 14 tahun terakhir, kata Mansour. Ia gagal untuk mencapai syahid di Afghanistan, lalu dia mencarinya di Tajikistan. Dan dia kecewa tak menemui kesyahidan, kemudian pergi ke Chechnya di mana akhirnya Allah berikan hadiah itu kepadanya, Mansour mengatakan dengan bangga.

Samir menikah dengan seorang wanita Dagistani dan memiliki tiga anak. (arabnews/dz)





Sumber: Eramuslim.com

Jumat, 24 Juli 2015

MUI Terbitkan Fatwa Hukuman Mati untuk Pelaku Homoseksual, Gay dan Lesbi




Be Bi Pro News, Jakarta - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa yang menyerukan berbagai hukuman mulai dari hukuman cambuk hingga hukuman mati, untuk pelaku homoseksual, pada 3 Maret 2015 lalu.

Hasanuddin AF, ketua Komisi Fatwa MUI, menegaskan fatwa dikeluarkan karena penyimpangan seksual kian meningkat, bahkan telah menyusup sekolah-sekolah.

“Sodomi, homoseksual, gay dan lesbian dalam hukum Islam dilarang dan [sodomi] adalah tindakan keji yang diancam dengan hukuman mati,” katanya seperti dilansir Tribunnews.com, Rabu (18/3/2015), darihttp://www.gaystarnews.com.

Hasanuddin mengatakan penyimpangan seksual akan menyakiti moral nasional dan meminta pemerintah untuk mendirikan pusat rehabilitasi mengobati orang-orang LGBTI (lesbian, gay, bisexual, transgender, and intersex) dan membasmi homoseksualitas di negara ini. (Baca juga: Cemburu, Gay di Samarinda Bunuh Pelajar SMP)

Fatwa MUI itu mengutuk homoseksualitas sebagai gangguan (yang harus) ‘disembuhkan’ dan sodomi sebagai pelanggaran hukum. Hal ini juga melarang legalisasi seks gay.

Sekretaris Komisi Fatwa, Asrorun Ni’am Sholeh, mengatakan sodomi lebih buruk daripada perzinahan dan seks di luar nikah dan dihukum dengan hukuman yang lebih keras dalam hukum Islam. TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA, Rabu, 18 Maret 2015, 23:05 WITA



MUI berharap pemerintah menjatuhkan hukuman berat pada pelaku homoseks.



Sementara itu santrinews memberitakan, MUI meminta pemerintah dan DPR agar tak melegalkan keberadaan komunitas homoseksual.

Selain itu, MUI berharap pemerintah menjatuhkan hukuman berat pada pelaku homoseks untuk menjadi peringatan dengan cara memasukkan perilaku seks menyimpang sebagai delik umum.

“Memasukkan aktivitas seksual menyimpang sebagai delik umum dan merupakan kejahatan menodai martabat luhur Indonesia,” tandasnya.

MUI juga mengharamkan pencabulan dan aktivitas pelampiasan nafsu seksual seperti meraba, meremas, dan aktivitas lainnya tanpa hubungan pernikahan yang sah.

“Pencabulan yang dilakukan seseorang baik pada lawan jenis, sesama jenis, pada dewasa ataupun anak-anak adalah haram,” tegasnya.

***


Hukuman Berat bagi Pelaku Homo ataupun Lesbi

By nahimunkar.com on 14 May 2014



Dalam Islam, haram dan dosa serta adzab atas pelaku homoseks telah dijelaskan di antaranya dalam Al-Qur’an Surat An-Naml ayat 54 – 58.:


وَلُوْطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتًوْنَ الْفَاحِشَةَ وَأَنْتًمْ تُبْصِرُوْنَ ( 54) أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُوْنَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُوْنِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ (55) فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلاَّ أَنْ قَالُوْا أَخْرِجُوْا ءَالَ لُوْطٍ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُوْنَ (56) فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلاَّ امْرَأَتَهُ قَدَّرْنَاهَا مِنَ الْغَابِرِيْنَ (57) وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا فَسَاءَ مَطُرٌ الْمُنْذَرِيْنَ (58) النمل : 54-58

Artinya ;

54. Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia Berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah[1101] itu sedang kamu memperlihatkan(nya)?”

55. ”Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)”.

56. Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: “Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; Karena Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (menda’wakan dirinya) bersih[1102]”.

57. Maka kami selamatkan dia beserta keluarganya, kecuali isterinya. Kami telah mentakdirkan dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).

58. Dan kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu), Maka amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu. (An Naml: 54-58).

Catatan ;

[1101] perbuatan keji: menurut Jumhur Mufassirin yang dimaksud perbuatan keji ialah perbuatan zina, sedang menurut pendapat yang lain ialah segala perbuatan mesum seperti : zina, homosek dan yang sejenisnya. Menurut pendapat Muslim dan Mujahid yang dimaksud dengan perbuatan keji ialah musahaqah (homosek antara wanita dengan wanita).

[1102] perkataan kaum Luth kepada sesamanya. Ini merupakan ejekan terhadap Luth dan orang-orang beriman kepadanya, Karena Luth dan orang-orang yang bersamanya tidak mau mengerjakan perbuatan mereka.


Homoseks adalah laki-laki mendatangi (melakukan perbuatan seks dengan laki-laki). Sedang lesbi adalah seorang wanita mendatangi wanita lainnya (melakukan perbuatan seks).



( 1138 ) – وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : { مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ , وَمَنْ وَجَدْتُمُوهُ وَقَعَ عَلَى بَهِيمَةٍ فَاقْتُلُوهُ وَاقْتُلُوا الْبَهِيمَةَ } رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْأَرْبَعَةُ وَرِجَالُهُ مُوَثَّقُونَ , إلَّا أَنَّ فِيهِ اخْتِلَافًا .

.–الجزء :4 (سبل السلام) الصفحة :25

Artinya ;

Dan dari Ibnu Abbas, bahwasanya Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ٍSiapa-siapa yang kamu dapati dia mengerjakan perbuatan kaum Luth (homoseksual, laki-laki bersetubuh dengan laki-laki), maka bunuhlah yang berbuat (homoseks) dan yang dibuati (pasangan berbuat homoseks itu); dan barangsiapa kamu dapati dia menyetubuhi binatang maka bunuhlah dia dan bunuhlah binatang itu. _(HR Ahmad dan Empat (imam), dan para periwayatnya orang-orang yang terpercaya, tetapi ada perselisihan di dalamnya).

Dalam Kitab Subulus Salam dijelaskan, dalam hadis itu ada dua masalah. Pertama, mengenai orang yang mengerjakan (homoseks) pekerjaan kaum Luth, tidak diragukan lagi bahwa itu adalah perbuatan dosa besar. Tentang hukumnya ada beberapa pendapat: Pertama, bahwa ia dihukum dengan hukuman zina diqiyaskan (dianalogikan) dengan zina karena sama-sama memasukkan barang haram ke kemaluan yang haram. Ini adalah pendapat Hadawiyah dan jama’ah dari kaum salaf dan khalaf, demikian pula Imam Syafi’i. Yang kedua, pelaku homoseks dan yang dihomo itu dibunuh semua baik keduanya itu muhshon (sudah pernah nikah dan bersetubuh) atau ghoiru muhshon (belum pernah nikah) karena hadits tersebut. Itu menurut pendapat pendukung dan qaul qadim As-Syafi’i.

Masalah kedua tentang mendatangi/menyetubuhi binatang, hadits itu menunjukkan haramnya, dan hukuman atas pelakunya adalah hukum bunuh. Demikianlah pendapat akhir dari dua pendapat Imam As-Syafi’i. Ia mengatakan, kalau hadits itu shahih, aku berpendapat padanya (demikian). Dan diriwayatkan dari Al-Qasim, dan As-Syafi’I berpendapat dalam satu pendapatnya bahwa pelaku yang menyetubuhi binatang itu wajib dihukum dengan hukuman zina diqiyaskan dengan zina.. (Subulus Salam, juz 4, hal 25).

Dari ayat-ayat, hadits-hadits dan pendapat-pendapat itu jelas bahwa homoseks ataupun lesbian adalah dosa besar. Bahkan pelaku dan pasangannya di dalam hadits dijelaskan agar dibunuh. Maka tindakan dosa besar itu wajib dihindari, dan pelaku-pelakunya perlu dijatuhi hukuman.



Hukum positif dan kenyataan gay

Keberadaan gay dan lesbian secara hukum positif jelas tidak diakui, apalagi pernikahan di antara sesama gay, di Indonesia merupakan sesuatu yang mustahil terjadi. Dari sudut pandang agama (Islam), orientasi seks menyimpang ini dilaknat Allah. Bahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala pernah memusnahkan kaum Nabi Luth yang mengidap homoseks ini rata dengan tanah.

Pembunuhan berantai yang dibarengi dengan mutilasi, sebagaimana dilakukan pengidap penyakit homoseks bernama Verry Idam Henyansah alias Ryan, belum memasuki tahapan akhir penyidikan, sudah muncul lagi kesadisan serupa yang dilakukan pengidap penyakit homoseks lainnya. Kali ini pelakunya Burhan alias Joses alias Han Han (23 tahun), sedangkan korbannya yang juga pasangan Burhan, bernama Ari Purwanto Suprapto (49 tahun), karyawan Bank Mandiri bagian Customer Service.

Ari Purwanto tewas dengan 34 luka tusukan di sekujur tubuhnya. Peristiwa itu terjadi di apartemen Taman Rasuna Tower 9 kamar 11-G, Jl. HR Rasuna Said, Setiabudi, Jakarta Selatan (Rabu, 30 Juli 2008).

Dari kasus Ryan dan juga Burhan yang sedemikian sadistis, citra buruk kaum homoseks kian terpuruk. Di sejumlah teve, segerombolan pengidap penyakit homoseks berusaha memberikan imbangan dengan memberikan pernyataan, bahwa kesadisan Ryan bukanlah disebabkan oleh orientasi seksualnya, tetapi didorong oleh nafsu menguasai harta korban-korbannya.



Larangan tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran

Kenyataan yang membahayakan bagi kehidupan ini tidak lain karena mereka telah melakukan kerusakan yang fatal, berupa tolong menolong dalam hal dosa dan pelanggaran. Padahal manusia ini sebagai hamba Alloh justru disuruh agar tolong menolong dalam taqwa dan kebaikan, dan tidak boleh tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran.

Hal itu karena firman Alloh Ta’ala:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya ;

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS Al-Maaidah: 2).

Juga firman-Nya:

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ(78)كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ(79)

Artinya ;

Telah dila`nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan `Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.

Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. (QS Al-Maaidah: 78, 79).

Dan sabda Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam:

(( مَنْ دَعَا إِلَى هُدَىً ، كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أجُورِ مَنْ تَبِعَه ، لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ أجُورِهمْ شَيئاً ، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ ، كَانَ عَلَيهِ مِنَ الإثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ ، لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيئاً )) رواه مسلم .صحيح مسلم – (ج 8 / ص 62)6980 –

Barangsiapa menyeru kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya sampai hari qiyamat, tanpa mengurangi pahala mereka (orang yang mengikuti petunjuk itu) sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka baginya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya sampai hari qiyamat, yang demikian itu tidak mengurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka (orang-orang yang mengikutinya). (HR Muslim, dari Abu Hurairah, Shahih Muslim juz 8 halaman 62, nomor 6980).


32 حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ قَالَ أَوَّلُ مَنْ بَدَأَ بِالْخُطْبَةِ يَوْمَ الْعِيدِ قَبْلَ الصَّلَاةِ مَرْوَانُ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ الصَّلَاةُ قَبْلَ الْخُطْبَةِ فَقَالَ قَدْ تُرِكَ مَا هُنَالِكَ فَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ أَمَّا هَذَا فَقَدْ قَضَى مَا عَلَيْهِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

32 Hadis Abu Said radhiyallahu ‘anh: Diriwayatkan dari Tariq bin Syihab radhiyallahu ‘anh, ia berkata: Orang pertama yang berkhutbah pada Hari Raya sebelum sholat Hari Raya didirikan ialah (Khalifah) Marwan. Seorang lelaki berdiri lalu berkata kepadanya: Sholat Hari Raya hendaklah dilakukan sebelum membaca khutbah. Marwan menjawab: Sesungguhnya kamu telah meninggalkan apa yang ada di sana (yaitu sunnah). Kemudian Abu Said berkata: Adapun orang (yang berbicara mengingkari Marwan) ini benar-benar telah membayar apa yang jadi kewajibannya (yaitu mengingkari kemunkaran), aku telah mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa di antara kamu melihat kemunkaran, maka hendaklah dia mencegah kemunkaran itu dengan tangannya (yaitu kekuasaannya). Jika tidak mampu, hendaklah dicegah dengan lidahnya. Kemudian kalau tidak mampu juga, hendaklah dicegah dengan hatinya (yaitu membencinya). Itulah selemah-lemah iman . (Hadits Muttafaq ‘alaih).

Syaikh Bin Baaz berkata: mengingkari dengan ahti adalah kewajiban atas setiap orang, yaitu membenci kemunkaran dan tak menyukainya, memisahkan diri dari ahlinya (pelakunya) ketika tidak mampu mengingkarinya dengan tangan dan lisan, karena firman Allah Ta’ala:

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي ءَايَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ(68)

Artinya ;

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu). (QS Al-An’am: 68).(Arsip Multaqo Ahlil Hadits 2, juz 1 halaman 543). (haji/tede).



TV Trans7 menampilkan pasangan gay

Saat media massa masih gencar memberitakan kesadisan pelaku pengidap homoseks di dalam membantai pasangannya, eh tahu-tahu stasiun teve swasta TRANS7 pada tanggal 08 Agustus 2008, melalui mata acara EMPAT MATA yang digawangi TUKUL, menampilkan pasangan gay asal Indonesia yang telah menikah di negeri Belanda, karena hukum positif di Indonesia tidak memungkinkan mereka menikah.

Pasangan yang dilaknat Allah itu adalah dokter Mamoto Gultom yang menikah dengan Hendi Sahertian pada tahun 2002 di negeri Belanda, setelah berkenalan sejak 1999 di sebuah café khusus kaum gay di Jakarta.

Tidak bisa disalahkan bila ada yang mempunyai kesan bahwa TV Trans7 berusaha turut memperbaiki citra kaum gay yang menjadi kian rusak akibat perilaku Ryan dan Burhan, dengan menampilkan pasangan gay yang sudah menikah dan tetap hidup rukun hingga bertahun-tahun, sebagaimana coba dikesankan melalui penampilan Mamoto dan Hendi.

Dan tidak bisa disalahkan juga bila ada sejumlah anggota masyarakat yang mempunyai dugaan, “jangan-jangan produser acara EMPAT MATA adalah juga seorang pengidap penyakit homoseks.” Bahkan tidak bisa disalahkan bila ada yang juga menduga-duga bahwa Pemilik dan Direktur stasiun teve swasta Trans7 jangan-jangan mengidap penyakit serupa.

Yang jelas, tidak hanya pasangan Mamoto-Hendi yang dilaknat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tetapi juga mereka yang tolong-menolong di dalam upaya memperbaiki citra buruk kaum gay ini. Seperti, pembawa acara (Tukul), Cameramen, Floor Manager, bahkan penonton yang memberikan applause saat Mamoto atau Hendi memberikan pernyataan yang menjijikkan.

Dalam salah satu kesempatannya, Mamoto menjelaskan, bahwa seseorang dapat memperoleh kenikmatan seksual melalui mulut, alat kelamin dan lubang dubur. Itu semua merupakan karunia Tuhan yang harus dinikmati. Ketika itu, penonton pun bertepuk tangan, seolah-olah menyetujui pernyataan yang menjijikkan itu.

Akhir-akhir ini acara EMPAT MATA yang dibawakan TUKUL kian turun rating-nya. Mungkin, dengan menampilkan pasangan gay Mamoto-Hendi, dua tujuan dapat diraih sekaligus. Pertama, turut memperbaiki citra buruk kaum gay yang kian terpuruk. Kedua, untuk mendongkrak rating dengan menampilkan bintang tamu yang kontroversial. Kalau benar kedua alasan ini yang menjadi tujuan pengelola acara teve swasta tersebut, sungguh amat sangat disayangkan, mereka telah mengabaikan moral demi keuntungan sesaat.

Sikap dan pilihan TV TRANS7 di dalam menampilkan pasangan gay Mamoto-Hendi, apapun maksud dan latar belakang yang menyertainya, kian menunjukkan bahwa pemilik dan pengelola statisun teve swasta kita lebih mendahulukan rating (uang) ketimbang menjadikan stasiun tevenya sebagai media yang berguna di dalam membangun bangsa, terutama membangun moral.


TV penyebar aneka kemusyrikan dan kemaksiatan

Selama ini, statsiun teve di Indonesia dalam rangka mengejar rating, tidak segan-segan menampilkan mata acara yang vulgar, sarat pornografi dan pornoaksi, juga mata acara yang menjajakan kesesatan, kemusyrikan, dan aneka kemunkaran lainnya.

Dulu, goyang ngebor Inul ketika masih dijajakan dari panggung ke panggung, tidak begitu dikenal masyarakat secara luas. Masyarakat yang menggemarinya pun terbatas pada kalangan menegah ke bawah, itu pun di kawasan pesisir, tak jauh dari lokasi prostitusi alias pelacuran.

Namun setelah berkali-kali diberi kesempatan tampil di statisun teve, Inul dan goyang ngebor-nya pun lantas menjadi sangat populer. Rating stasiun teve yang menampilkan Inul berikut goyang ngebor-nya, meningkat tajam. Tarif Inul mencapai miliaran rupiah sekali tampil di teve, begitu juga dengan penampilan off air-nya pasca melambungnya popularitas Inul, mencapai miliaran rupiah, menyebabkan Inul mampu membeli rumah mewah ratusan miliar di kawan elite Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Ini menunjukkan bahwa teve di Indonesia mampu memberikan kontribusi yang sangat besar di dalam mensosialisasikan kemunkaran. Setelah Inul sukses dengan goyang ngebor-nya, maka sejumlah pedangdut perempuan pun berkreasi menciptakan goyang maksiat lainnya, seperti goyang patah-patah, goyang gergaji, goyang ngecor, goyang dombret, dan sebagainya.

Ada yang menyimpulkan, sampai kini tidak ada teve di Indonesia yang meraih sukses tanpa maksiat, bersih dari pornografi dan pornoaksi, bersih dari mata acara yang menjajakan kemusyrikan. Kalau benar demikian, ini berarti teve di Indonesia lebih mengarah bukan sebagai agen perubahan yang konstruktif/ membangun, tetapi lebih mengarah sebagai agen perubahan yang destruktif/ merusak.


(nahimunkar.com)


الشذوذ الجنسي وأحكامه ومدى اعتباره مرضا نفسيا



الإثنين 5 ربيع الآخر 1436 – 26-1-2015

رقم الفتوى: 283366




السؤال
ما حكم الشذوذ الجنسي في الإسلام؟ وهل الإسلام فعلا أفتى في هذه المسألة؟ وإذا اعتبرنا الشواذ مرضى نفسيين فكيف لنا أن نؤاخذهم على تصرفاتهم، فنحن لا نؤاخذ من لديه مرض جلدي بعدم قدرته على الوضوء؟ وأغلب أطباء العلم النفسي أجمعوا على أن الشذوذ الجنسي سلوك طبيعي من خلال دراسات تم إجراؤها لفترة طويلة، وإذا كان هذا هو الحال، فكيف لرب العالمين أن يخلقهم من الشواذ ويعاقبهم على ذنب لم يقترفوه، بل كان من التصرف العفوي عندهم؟.

الإجابــة

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد:

فلا خلاف في حرمة الشذوذ الجنسي، سواء اللواط بين الذكور، أو السحاق بين الإناث، ومقدمات ذلك، وأما عقوبة هاتين الجريمتين: فمختلفة، فاللواط حده القتل، وأما السحاق فليس فيه حد، وإنما فيه التعزير، جاء في الموسوعة الفقهية: اتفق الفقهاء على أن اللواط محرم، لأنه من أغلظ الفواحش، وقد ذمه الله تعالى في كتابه الكريم وعاب على فعله، فقال تعالى: ولوطا إذ قال لقومه أتأتون الفاحشة ما سبقكم بها من أحد من العالمين * إنكم لتأتون الرجال شهوة من دون النساء بل أنتم قوم مسرفون ـ وقال تعالى: أتأتون الذكران من العالمين * وتذرون ما خلق لكم ربكم من أزواجكم بل أنتم قوم عادون ـ وقد ذمه الرسول صلى الله عليه وسلم بقوله: لعن الله من عمل عمل قوم لوط.. اهـ.

وفيها أيضا: لا خلاف بين الفقهاء في أن السحاق حرام، لقول النبي صلى الله عليه وسلم: السحاق زنى النساء بينهن ـ وقد عده ابن حجر من الكبائر… اتفق الفقهاء على أنه لا حد في السحاق، لأنه ليس زنى، وإنما يجب فيه التعزير، لأنه معصية. اهـ.

وراجع في ذلك الفتاوى التالية أرقامها: 267475، 28379، 9006، 16204.

وهذا بالنسبة للفعل، وأما مجرد الميل الذي لا يرقى لأن يكون عزيمة أو تصميما، ولا يترتب عليه قول ولا فعل، فلا يعاقب عليه الإنسان مهما كان سيئا، بل إن مجاهدة صاحبه له، علامة على تقواه، وتعد من الطاعات الكبار التي يستحق عليها الثواب والمدح، وعلى ذلك، فلا يجوز محاسبة الإنسان ومعاقبته أو ازدراؤه على مجرد ميل يوجد فيه بغير تكلف، ولا يتبع فيه نفسه هواها، بل ينبغي أن يعان على الخير واجتناب الفواحش ما ظهر منها وما بطن! وعلى من ابتلي بشيء من ذلك أن يتحلى بالصبر الجميل، على مجاهدة ما يجده بداخله من ميل منحرف، وعلى ما يجده من معاملة الناس له، كما سبق التنبيه عليه في الفتوى رقم: 267901.

وإذا اتضح ذلك، ظهر أنه من المطلوب معاملة هذا النوع من الناس الذي لا يعدو انحرافه مجرد الميل الذي لا يترتب عليه قول ولا فعل ـ معاملة حسنة تناسب حالهم ومجاهدتهم لشرور أنفسهم، وتعينهم على ما يجدونه من اضطراب نفسي أو عضوي.

وأما من وقع في الفعل المحرم: فلا تصح معاملته معاملة المرضى النفسانيين هكذا بإطلاق، بحيث ترفع عنهم المؤاخذة ويبرر لهم خبث فعلهم، ويخفف عنهم من سوء صنيعهم! بل لا بد من الجمع بين الوعظ وبذل النصح، وبين النهي عن المنكر، وبين الردع عن الفساد والعقوبة على الخطأ، كل بحسب حاله وموقعه وقدرته، وهنا ننبه على أن هذه النظرة الخاطئة للفواحش لا تقف عند حد الشذوذ، بل تسير مع أصحابها في تبرير كافة الجرائم، فترجع كل خطيئة إلى عوامل نفسية في التنشئة والبيئة، بما يعني تبرير الجرائم ورفع عقوباتها، بل والتسامح مع أصحابها وإعطائهم مزيدا من الحقوق!!! وتصور هذا وأثره على المجتمعات كافٍ في إبطاله، وقد استشكل السائل نفسه في سؤال آخر له: قطع يد السارق إذا كان يعاني من مرض نفسي يجعله يسرق، كما في السؤال رقم: 2540904، وأما مسألة خلق الإنسان بهذه النزعة: فالصواب أن الله تعالى خلق الإنسان على فطرة سوية، ثم يطرأ الشذوذ وغيره من الآفات بعد ذلك بفعل البيئة، وشياطين الإنس والجن، والنفس الأمارة بالسوء وغير ذلك من العوامل، كما سبق التنبيه عليه في الفتوى رقم:155433.

والله أعلم.





Selasa, 21 Juli 2015

H Ismail Saul Yenu (Mualaf, Kepala Suku Besar Serui, dan Mantan Kepala Pendeta)



H Ismail Saul Yenu
(Mualaf, Kepala Suku Besar Serui, dan Mantan Kepala Pendeta)


Missionaris tidak membangun peradaban baru, justru mempertahankan budaya terbelakang.

Hidayah datang tak mengenal umur. Itulah yang saya alami. Saat usia menginjak angka 68 tahun, Allah membuka pintu hati saya untuk masuk Islam. Padahal bertahun-tahun, saya adalah seorang pendeta, malah saya adalah ketua pendeta di Manokwari. Saya sekaligus adalah Kepala Suku Besar Serui.

Saya terlahir dengan nama Saul Yenu. Saya adalah manusia tiga zaman. Saya merasakan hidup di zaman Belanda, Jepang, dan kemerdekaan. Saya lahir 28 Oktober 1934. Karena itu saya pernah merasakan perih getirnya perjuangan. Saat itu saya sebagai pejuang pembebesan Irian Jaya.

Ternyata setelah kemerdekaan, penduduk Irian Jaya bukannya tambah berbudaya. Mereka tetap saja dalam ketertinggalan. Mereka tetap telanjang. Padahal di sana banyak berkeliaran para misionaris. Kekayaan alam yang dimiliki Irian Jaya ternyata tak memberi dampak kemajuan kepada penduduknya.

Ini saya lihat berbeda dengan kalangan Muslim. Kebetulan saya bergaul dengan baik dengan kaum Muslim di Irian Jaya, terutama ABRI (sekarang TNI) yang sering mengadakan kegiatan ABRI masuk desa pada dasawarsa 70-80-an. Mereka semua berpakaian. Mereka pun membangunkan rumah-rumah gratis bagi warga Irian. Begitu senangnya saya dengan mereka hingga saya pun dengan senang hati sering memberi bantuan kepada mereka. Kebetulan saat itu saya bekerja di Departemen Pekerjaan Umum.

Pergaulan intensif saya dengan orang-orang Muslim itu sedikit demi sedikit menimbulkan kekaguman pada diri saya. Mereka selalu membersihkan diri setiap hari minimal lima kali sehari. Mereka pun selalu shalat. ”Wah, jangan-jangan karena mereka sembahyang terus tiap hari, bumi ini menjadi berkah,” pikir saya.

Ini sangat berbeda dengan kebiasaan kami. Kami hanya ke gereja seminggu sekali. Itu pun tidak wajib. Berarti doa hanya sekali seminggu. Itu pun banyak di antara jemaaht gereja masih dalam keadaan habis minum bir dan minuman keras lainnya. ”Bagaimana doa bisa diterima kalau mabuk,” pikir saya.

Tapi itulah, kenyataaannya. Suatu saat saya berpikir: ”Kalau Kristen terus, berarti ini melanjutkan zaman Belanda. Masyarakat tidak akan pernah maju.” Soalnya, memang Belanda-lah yang membawa misi Kristen di Irian Jaya pertama kali. Dan hingga kini, misionaris tidak membangun peradaban baru. Justru mereka ingin mempertahankan budaya Irian yang sebenarnya terbelakang.

Pergaulan saya dengan orang-orang Muslim mengantarkan saya pada sebuah kesimpulan bahwa Islam identik dengan kemajuan. Dan inilah yang saya lihat sendiri. Orang-orang Muslim justru mengajak kami menggunakan pakaian. Belakangan saya baru tahu bahwa ada kewajiban bagi setiap Muslim menutup aurat.

Begitu eratnya hubungan saya dengan kaum Muslim ini hingga kalangan Kristen di Manokwari menyebut saya pendeta Krimus, alias Kristen Muslim. Saya bilang kepada mereka: ”Janganlah mengatakan seperti itu, nanti malah bisa menjadi Muslim betulan.”

Kekaguman saya atas perilaku kaum Muslim itulah yang membuat tekad saya kian kuat untuk memeluk Islam. Saya yakin: Islam adalah kemajuan. Pelajaran kependetaan yang saya jalani di Gereja Tabernakel tak mampu mencegah keinginan saya memenuhi panggilan Allah.


Jalan Berliku

Ternyata tak mudah masuk Islam. Mungkin karena saya adalah kepala pendeta dan kepala suku besar. Hingga suatu saat ketika saya menyampaikan niat saya kepada seorang kepala KUA di Manokwari, dia menolak. Sepertinya dia tak berani mengislamkan saya.

Tapi niat hati ini tak bisa dibendung. Saya akhirnya memutuskan pergi ke Jakarta demi niat tersebut. Saya dibantu oleh saudara Khairudin, kenalan saya yang bekerja di Angkatan Laut. Saya kemudian diantar ke Condet, menghadap seorang ulama di sana. Di situ saya mengucapkan syahadat. Saya pun mengubah nama menjadi Ismail Saul Yenu.

Untuk lebih meyakinkan lagi, saya dibawa ke Masjid Al Azhar di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Saat itu bulan Februari 2002. Keislaman saya disahkan di masjid besar itu. ”Alhamdulillah.” Setelah itu, saya pun disunat. Saya dibawa ke Bandung. Dalam kondisi sudah tua seperti ini saya harus sunat bersama anak-anak. Memang agak malu, tapi harus bagaimana lagi.

Masuk Islam saya ternyata sampai juga ke Irian Jaya, Belanda, dan Jerman. Mereka gempar. Jelas mereka tak terima langkah saya, apalagi saya punya posisi yang penting di Manokwari khususnya Suku Besar Serui.

Karena itu saya memutuskan untuk tidak langsung pulang. Saya ingin tinggal di Jakarta terlebih dahulu, sekalian belajar Islam. Kebetulan saat itu adalah musim haji. Saya ingin sekali naik haji. Berkat bantuan teman-teman di Jakarta, akhirnya saya dibantu Pak Amien Rais untuk menunaikan haji. Dalam kondisi masih diperban, saya berangkat haji bersama rombongan Aisyiyah.

Sepulang dari haji, saya diminta tak langsung pulang ke Irian. Tapi saya tetap nekad. Saya yakin Allah akan selalu menyertai kita. Saya yang sejak haji mengenakan gamis panjang dan topi haji, berangkat naik kapal Pelni. Banyak liku-liku di perjalanan, termasuk ketika kapal dilarang merapat di Ambon karena ada konflik. Saya nekad meminta kapal dibolehkan sandar. Kapal pun sandar.

Ketika kapal Ciremai sampai di Manokwari, saya justru disambut. Tidak hanya kalangan Islam tapi juga Kristen. Saya diterima secara adat dengan cara melewati kain slopang sepanjang 40 meter berwarna biru tua. Ini adalah simbol kematian. Tapi di atas kain itu ditaruh 100 piring yang menandakan kebangkitan. Ini artinya, sebagai pendeta sudah mati dan bangkit lagi sebagai haji.

Sejak itu saya berusaha menyampaikan Islam kepada siapapun. Baik kepada keluarga maupun saya datang langsung ke gereja. Saya selalu bilang kepada mereka: ”Saya datang untuk sampaikan firman Allah yang sebenarnya.”

Memang baru hal-hal ringan yang saya sampaikan seperti tidak boleh mabuk, harus selalu bersih dan suci. Saya juga menyampaikan bahwa Islam tidaklah seperti yang digambarkan oleh para misionaris sebagai agama yang harus dibenci. Islam adalah agama yang baik yang mengajarkan manusia untuk berbudaya luhur, tidak telanjang seperti sekarang. ”Ajaran yang demikian baik, seharusnya bisa diterima,” kata saya dalam setiap pertemuan.

Paling tidak hingga kini sudah ada 50 orang yang masuk Islam. Alhamdulillah. Sebanyak 20 di antaranya sudah naik haji. Keluarga pun beberapa mengikuti jejak saya. Anak saya yang berjumlah 37 orang, tujuh di antaranya sudah masuk Islam. Istri saya empat orang, dua di antaranya pun sudah jadi mualaf. Alhamdulillah. Saya akan terus berusaha agar penduduk Irian terbebas dari keterbelakangannya dengan cara mengajak mereka masuk Islam.

Berbagai bantuan kini sedang saya kumpulkan, terutama adalah pakaian. Saya ingin mereka berpakaian, menutup aurat. Itulah salah satu ajaran Islam.





Sumber : http://www.mediaumat.com/content/view/1012/2/
                  - Diolah oleh mujiyanto dari hasil wawancara

Senin, 13 Juli 2015

Akhlaq Mulia Antara Sifat Alami Dan Usaha



Sebagaimana akhlaq merupakan sebuah tabiat atau ketetapan asli, akhlaq juga bisa diperoleh atau diupayakan dengan jalan berusaha. Maksudnya, bahwa seorang manusia sebagaimana telah ditetapkan padanya akhlaq yang baik dan bagus, sesungguhnya memungkinkan juga baginya untuk berperilaku dengan akhlaq yang baik dengan jalan berusaha dan berupaya untuk membiasakannya.

Untuk itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata kepada Asyajj ‘Abdul Qais:

ﷲﺍﺎﻤﻬﺒﳛﲔﻘﻠﻚﻴﻓﻥﺇ : ﺓﺎﻧﻷﺍﻭﻢﻠ

“Sesungguhnya dalam dirimu ada dua sifat yang Allah sukai; sifat santun dan tidak tergesa-gesa”

Ia berkata:

ﷲﺍﻝﻮﺳﺭ ﺎﻳ , ﺎﻤﺖﻘﻠﻥﺎﻘﻠﺧﺎ , ﺎﻤﻬﻴﻠﻋﷲﺍﻠﺒﺟ ﻡﺃ

”Wahai Rasulullah, Apakah kedua akhlaq tersebut merupakan hasil usahaku, atau Allah-kah yang telah menetapkan keduanya padaku?”
Beliau menjawab:

ﺎﻤﻬﻴﻠﻋﷲﺍﻚﻠﺒﺟﻞﺑ

“Allahlah yang telah mengaruniakan keduanya padamu”. Kemudian ia berkata:

ﻪﻟﻮﺳﺭﻭﺎﻤﻬﺒﳛﲔﻘﻠﺧﻰﻠﻋﻠﺒﺟﻱﺬﻟﺍﷲﺪﻤ

”Segala puji bagi Allah yang telah memberiku dua akhlaq yang dicintai oleh-Nya dan oleh Rasul-Nya”. 1)

Maka, hal ini menunjukan bahwa akhlaq terpuji dan mulia bisa berupa perilaku alami (yakni karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya) dan juga dapat berupa sifat yang dapat diusahakan atau diupayakan. Akan tetapi, tidak diragukan lagi bahwa sifat yang alami tentu lebih baik dari sifat yang diusahakan. Karena akhlaq yang baik jika bersifat alami akan menjadi perangai dan kebiasaan bagi seseorang. Ia tidak membutuhkan sikap berlebih-lebihan dalam membiasakannya. Juga tidak membutuhkan tenaga dan kesulitan dalam menghadirkannya. Akan tetapi, ini adalah karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Ia diberikan kepada seorang hamba yang dikehendaki oleh-Nya, barang siapa yang terhalang dari hal ini – yakni terhalang dari akhlaq tersebut secara tabiat alami –, maka sangat mungkin baginya untuk memperolehnya dengan jalan berusaha dan berupaya untuk membiasakannya. Yaitu dengan cara membiasakan dan melakukannya terus-menerus, sebagaimana yang akan kami jelaskan nanti Insya Allah.

Makarimul Akhlaq – Syaikh Muhammad bin Shâlih Al ‘Utsaimîn
1) Dikeluarkan oleh Abu Daud, No (5225) di Kitaabul Adab, dan Ahmad (4 / 206). Imam Muslim hanya mengeluarkan bagian yang pertama saja, No (25 & 26) di Kitaabul Iimaan, juga oleh Imam Tirmidzi, No (2011) di Kitaabul Bir Wash Shilah




Sumber : shirotholmustaqim.wordpress.com