Text Line

Kita Bangsa yang Besar, Jangan Mudah Untuk Diadu Domba

Teks

Mohon Maaf Jika Anda Kurang Nyaman, Karena Blog Masih Dalam Perbaikan
Tampilkan postingan dengan label Karo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karo. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Desember 2015

Istilah - istilah pada upacara Pernikahan Suku Karo


Berikut ini merupakan rangkum dari berbagai sumber jadi kalau ada kekurangan mohon maaf dan mohon koreksinya.


Pada setiap acara pernikahan pasti kita sering mendengar istilah - istilah yang berhubung dengan acara tersebut, sebagai contohnya istilah ngunduh mantu. Arti ngunduh berasal dari bahasa Jawa yang artinya memanen (panen), menuai. Sedangkan Mantu sendiri artinya menantu. Yang apabila diartikan secara harfiah adalah Panen Menantu, tetapi yang dimaksud ngunduh mantu itu sebenernya adalah mendapatkan seorang menantu.

Seperti halnya di jawa, suku karo juga memiliki istilah - istilah yang sering dipakai dalam proses pernikahan/perkawinan, istilah – istilah tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Maba Beru Nangkih, yang dimaksud dengan maba beru nangkih adalah membawa wanita/perempuan pergi dari rumah orang tuanya untuk dinikahi tanpa sepengetahuan orang tua / keluarga wanita tersebut. Tetapi setelah si wanita tersebut berada di rumah pihak lelaki, maka orang tua / keluarga lelaki tersebut akan menanyai si wanita tentang asal dan beru (sebutan marga untuk wanita karo) apa dia. Setelah keterangan didapat dai wanita tersebut, maka keluarga pihak pria akan mendatangi dan memberitahu orang tua / keluarga pihak wanita bahwa anak mereka sudah menikah. Sewaktu memberitahu keluarga pihak pria akan meninggalkan sesuatu benda (atau biasa disebut dengan penadingen) di rumah pihak perempuan.
  2. Ngembah Belo Selambar (nungkuni kata), ngembah belo selambar adalah proses dimana keluarga pihak pria bersama anak berunya mendatangi pihak wanita dengan tujuan untuk meminang, acara ini bisa juga disebut dengan upacara adat untuk meminang anak perempuan.
  3. Nganting Manuk, pada upacara ini akan dibicarakan mengenai berapa emas kawin yang harus disediakan pihak pria. Pada upacara ini pihak sukut dari pengantin perempuan harus lengkap hadir yaitu kuh sangkep nggeluh (anak beru, senina dan kalimbubu) hal yang sama juga berlaku untuk pihak pria, kuh sangkep nggeluh harus hadir.
  4. Gantang Tumba, artinya adalah untuk ukuran mas kawin.
  5. Batang Unjuken, yaitu merupakan mas kawin yang disediakan apabila yang dinikahi masih memiliki hubungan keluarga.
  6. Tukur, yaitu mas kawin.
  7. Bere - Bere, yaitu bagian dari mas kawin yang diberikan kepada saudara laki - laki pihak perempuan.
  8. Perkempun dan perninin, yaitu bagian dari mas kawin yang dibeikan kepada nenek dari pihak perempuan.
  9. Perbibin, Yaitu bagian dari mas kawin yang diberikan kepada saudara perempuan dari ibu pengantin perempuan.
  10. Perkembaren, yaitu bagian dari mas kawin yang diberikan kepada anak beru keluarga ayah pengantin perempuan
  11. Ulu emas, yaitu bagiandari mas kawin atau biasa juga disebut dengan utang adat yang diberikan kepada kalimbubu ayah (pihak pria) sehubungan dengan pernikahan anaknya.
  12. Sereh, yaitu merupakan sebutan menikah/kawin kepada pengantin perempuan
  13. Empo, yaitu merupakan sebutan menikan/kawin kepada pengantin pria
  14. Sukut Sinereh, adalah merupakan pihak keluarga dari pengantin perempuan.
  15. Pinggan Pasu, yaitu merupakan piring besar yang dipakai untuk mengantarkan mas kawin.
  16. Luah singalo Bere - bere, yaitu merupakan pemberian kado dari pihak saudara laki - laki dari ibu pengantin perempuan dan rombongannya. Luah/kado ini harus diberikan pada saat cara pesta pernikahan dan disertai dengan kata - kata pemberkatan.
  17. Mukul, mukul adalah upacara malam pernikahan yang dilakukan setelah hari pernikahan. mukul dapat diartikan sebagai acra/upacara yang dilakukan untuk mempersatukan pengantin wanita dan pria dalam satu tempat makan, piring yang digunakan disebut dengan pinggan pasu, tujuan dari upacara ini adalah untuk memberkati pengantin agar bahagia dalam menjalani kehidupan rumah tangganya.
  18. Kerja - kerja, yaitu pesta pernikahan.
  19. Ngeranaken, yaitu pesta pernikahan.
  20. Petuturken, yaitu pesta nikah dimana pengantin pria dan wanita belum ada hubungan keluarga dan dipesta inilah tuturnya (hubungan keluarga) terjadi.
  21. Erdemu Bayu, pesta pernikahan antara pria dan wanita yang sebelumnya memang sudah memiliki hubungan kekeluargaan.
  22. Gancih Abu, yaitu merupakan pernikahan seorang suami dengan adik perempuan istrinya, hal ini dilakukan setelah istri pria tersebut meninggal atau dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan “turun Ranjang”.
  23. Lako Man, yaitu merupakan kebalikan dari gancih abu, dimana istri akan menikah dengan adik seuaminya, hal ini dilakukan setelah suaminya meninggal.
  24. Kerja Sintua, yaitu merupakan pesta besar dari Pernikahan, Kematian dan Mengket rumah (masuk rumah baru). Kerja sintua biasa dilakukan dengan besar dengan mengundang seluruh keluarga dan penduduk kampong.
  25. Kerja Singuda, yaitu merupakan sebuah pesta yang diadakan secara sederhana, dan biasanya pesta ini dilakukan untuk sekedar memenuhi adat saja dan yang diundang pun hanya pihak – pihak yang harus hadir pada acara tersebut.
Semua hal diatas adalah merupakan istilah - istilah yang biasa dipakai dalam acara pernikahan pada suku karo, apabila ada kurangnya mohon maaf dan mohon koreksinya.




Sumber : Dari Berbagai Sumber
Mejuah - Juah Man Banta Kerina

Senin, 28 Januari 2013

Sejarah Wilayah Suku Karo



Sejarah Dan Kediaman


Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Suku Karo mempunyai sebutan sendiri untuk orang Batak yaitu Kalak Teba umumnya untuk Batak Tapanuli. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas.


Eksistensi Kerajaan Haru-Karo
Kerajaan Haru-Karo mulai menjadi kerajaan besar di Sumatera, namun tidak diketahui secara pasti kapan berdirinya. Namun demikian, Brahma Putra, dalam bukunya “Karo dari Zaman ke Zaman” mengatakan bahwa pada abad 1 Masehi sudah ada kerajaan di Sumatera Utara yang rajanya bernama “Pa Lagan“. Menilik dari nama itu merupakan bahasa yang berasal dari suku Karo. Mungkinkah pada masa itu kerajaan haru sudah ada?, hal ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.(Darman Prinst, SH :2004)

Kerajaan Haru-Karo diketahui tumbuh dan berkembang bersamaan waktunya dengan kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Johor, Malaka dan Aceh. Terbukti karena kerajaan Haru pernah berperang dengan kerajaan-kerajaan tersebut.

Kerajaan Haru identik dengan suku Karo,yaitu salah satu suku di Nusantara. Pada masa keemasannya, kerajaan Haru-Karo mulai dari Aceh Besar hingga ke sungai Siak di Riau. Eksistensi Haru-Karo di Aceh dapat dipastikan dengan beberapa nama desa di sana yang berasal dari bahasa Karo. Misalnya Kuta Raja (Sekarang Banda Aceh), Kuta Binjei di Aceh Timur, Kuta Karang, Kuta Alam, Kuta Lubok, Kuta Laksmana Mahmud, Kuta Cane, Blang Kejeren, dan lainnya. (D.Prinst, SH: 2004)

Terdapat suku Karo di Aceh Besaryang dalam logat Aceh disebut Karee. Keberadaan suku Haru-Karo di Aceh ini diakui oleh H. Muhammad Said dalam bukunya “Aceh Sepanjang Abad”, (1981). Ia menekankan bahwa penduduk asli Aceh Besar adalah keturunan mirip Batak. Namun tidak dijelaskan keturunan dari batak mana penduduk asli tersebut. Sementara itu, H. M. Zainuddin dalam bukunya “Tarikh Aceh dan Nusantara” (1961) dikatakan bahwa di lembah Aceh Besar disamping Kerajaan Islam ada kerajaan Karo. Selanjunya disebutkan bahwa penduduk asli atau bumi putera dari Ke-20 Mukim bercampur dengan suku Karo yang dalam bahasa Aceh disebut Karee. Brahma Putra, dalam bukunya “Karo Sepanjang Zaman” mengatakan bahwa raja terakhir suku Karo di Aceh Besar adalah Manang Ginting Suka.

Kelompok karo di Aceh kemudian berubah nama menjadi “Kaum Lhee Reutoih” atau kaum tiga ratus. Penamaan demikian terkait dengan peristiwa perselisihan antara suku Karo dengan suku Hindu di sana yang disepakati diselesaikan dengan perang tanding. Sebanyak tiga ratus (300) orang suku Karo akan berkelahi dengan empat ratus (400) orang suku Hindu di suatu lapangan terbuka. Perang tanding ini dapat didamaikan dan sejak saat itu suku Karo disebut sebagai kaum tiga ratus dan kaum Hindu disebut kaum empat ratus.

Dikemudian hari terjadi pencampuran antar suku Karo dengan suku Hindu dan mereka disebut sebagai kaum Jasandang. Golongan lainnya adalah Kaum Imam Pewet dan Kaum Tok Batee yang merupakan campuran suku pendatang, seperti: Kaum Hindu, Arab, Persia, dan lainnya.


Wilayah Suku Karo
Sering terjadi kekeliruan dalam percakapan sehari-hari di masyarakat bahwa Taneh Karo diidentikkan dengan Kabupaten Karo. Padahal, Taneh Karo jauh lebih luas daripada Kabupaten Karo karena meliputi:

Kabupaten Tanah Karo
Tanah Karo terletak di kaki Gunung Sinabung. Kabupaten Karo terletak di dataran tinggi Tanah Karo. Kota yang terkenal dengan di wilayah ini adalah Brastagi dan Kabanjahe. Brastagi merupakan salah satu kota turis di Sumatera Utara yang sangat terkenal dengan produk pertaniannya yang unggul. Salah satunya adalah buah jeruk dan produk minuman yang terkenal yaitu sebagai penghasil Markisa Jus yang terkenal hingga seluruh nusantara. Mayoritas suku Karo bermukim di daerah pegunungan ini, tepatnya di daerah Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak yang sering disebut sebagai atau “Taneh Karo Simalem”. Banyak keunikan-keunikan terdapat pada masyarakat Karo, baik dari geografis, alam, maupun bentuk masakan. Masakan Karo, salah satu yang unik adalah disebut trites.Trites ini disajikan pada saat pesta budaya, seperti pesta pernikahan, pesta memasuki rumah baru, dan pesta tahunan yang dinamakan -kerja tahun-. Trites ini bahannya diambil dari isilambung sapi/kerbau, yang belum dikeluarkan sebagai kotoran.Bahan inilah yang diolah sedemikian rupa dicampur dengan bahan rempah-rempah sehingga aroma tajam pada isi lambung berkurang dan dapat dinikmati. Masakan ini merupakan makanan favorit yang suguhan pertama diberikan kepada yang dihormati.

 
Kota Medan
Pendiri kota Medan adalah seorang putra Karo yaitu Guru Patimpus Sembiring Pelawi.

 
Kota Binjai
Kota Binjai merupakan daerah yang memiliki interaksi paling kuat dengan kota Medan disebabkan oleh jaraknya yang relatif sangat dekat dari kota Medan sebagai Ibu kota provinsi Sumatera Utara.

Kabupaten Dairi
Wilayah kabupaten Dairi pada umumnya sangat subur dengan kemakmuran masyarakatnya melalui perkebunan kopinya yang sangat berkualitas. Sebagian kabupaten Dairi yang merupakan Taneh Karo:

  • Kecamatan Taneh Pinem
  • Kecamatan Tiga Lingga
  • Kecamatan Gunung Sitember

Kabupaten Deli Serdang
Sebagian kabupaten Deli Serdang yang merupakan Taneh Karo:

  • Kecamatan Lubuk Pakam
  • Kecamatan Bangun Purba
  • Kecamatan Galang
  • Kecamatan Gunung Meriah
  • Kecamatan Sibolangit
  • Kecamatan Pancur Batu
  • Kecamatan Namo Rambe
  • Kecamatan Sunggal
  • Kecamatan Kuta Limbaru
  • Kecamatan STM Hilir
  • Kecamatan Hamparan Perak
  • Kecamatan Tanjung Morawa
  • Kecamatan Sibiru-biru
  • kecamatan STM Hulu
  • Kabupaten Langkat
Kabupaten Langkat
Taneh Karo di kabupaten Langkat meliputi:

  • Kecamatan Selesai
  • Kecamatan Kuala
  • Kecamatan Salapian
  • Kecamatan Bahorok
  • Kecamatan Pd.Tualang (Batang Serangan)
  • Kecamatan Sungai Bingai
  • Kecamatan Stabat

Kabupaten Aceh Tenggara
Taneh Karo di kabupaten Aceh Tenggara meliputi:
  • Kecamatan Lau Sigala-gala (Desa Lau Deski, Lau Perbunga, Lau Kinga)
  •  Kecamatan Simpang Simadam
  •  Kabupaten Aceh Tenggara
  •  Kecamatan Simpang Simadam
Kabupaten Simalungun
Taneh Karo di kabupaten Simalungun meliputi:
  • Kecamatan Doloksilau
  • Sebagian Kecamatan Silimakuta (contohnya: desa Rakut Besi)
  • Petanggalan

Rabu, 23 Januari 2013

KAIN ADAT KARO

1. Uis Nipes Benang Iring

Ukuran : 154 x 62 cm

 Penggunaan :  

  1. Kain ini dipakai untuk selendang wanita pada upacara yang bersifat duka cita.



2. UIS Nipes Padang Rusak


 Ukuran : 146 x 74 cm
 Penggunaan :
  1. Kain ini dipakai untuk selendang wanita pada pesta maupun dalam sehari-hari.
  


3. Gatip Jongkit 

 Uis Gatip Jongkit menunjukkan karakter Teguh dan Ulet

Ukuran : 164 x 96 Cm



Penggunaan :
  1. Sebagai Penutup Kepala wanita Karo (tudung) baik pada pesta maupun dalam kesehariannya.
  2. Untuk beberapa daerah, diberikan sebagai tanda kehormatan kepada kalimbubu pada saat wanita Karo meninggal Dunia (Maneh-maneh dan morah-morah)



4. UIS Ragi Barat
  

Ukuran : 144 x 65 cm
Penggunaan :

  1. Kain ini dipakai untuk selendang wanita pada upacara yang bersifat sukacita maupun dalam keseharian.
  2. Lapisan luar pakaian wanita bagian bawah (sebagai kain sarung) untuk kegiatan pesta sukacita yang diharuskan berpakaian adat lengkap.



5. UIS Nipes Mangiring  

Ukuran : 148 x 64 cm

Penggunaan :
  1. Kain ini dipakai wanita Karo sebagai selendang bahu dalam upacara adat duka cita



6. Batu Jala 

Ukuran : 146 x 84 cm

Penggunaan :
  1. Kain ini dipakai wanita Karo lanjut usia sebagai tutup kepala (tudung) dalam upacara yang bersifat duka cita
  2. Pada beberapa daerah, kain ini dijadikan sebagai tanda rasa hormat kepada Kalimbubu (Maneh-maneh) pada saat orang yang sudah lanjut usia meninggal.



7. UIS Arinteneng 


 Ukuran : 140 x 84 cm
Penggunaan :
  1. Alas pinggan pasu yang dipakai pada waktu penyerehan mas kawin
  2. Alas piring makan pengantin saat makan bersama dalam satu piring pada malam hari usai pesta peradatan (man nakan persadan tendi/mukul) 



8. UIS Kelam-kelam


Ukuran : 169 x 80 cm

Kain ini bukan kain tenun manual, tapi hasil pabrik tekstil yang dicelup warna hitam menggunakan pewarna alami.
Penggunaan :
  1. penutup kepala wanita Karo (tudung teger) waktu pesta adat dan pesta guro-guro aron.
  2. Kain ini juga digunakan sebagai tanda penghormatan kepada puang kalimbubu pada saat wanita lanjut usia meninggal dunia (morah-morah)



9. UIS Pementing

 Ukuran : 168 x 72 cm

Penggunaan :  
  1. Kain ini dipakai Pria Karo sebagai ikat pinggang (benting) pada saat berpakaian Adat lengkap dengan menggunakan Uis Julu sebagai kain sarung. 



10. UIS Jongkit Dilaki

 Uis Jongkit Dilaki menunjukkan karakter kuat dan perkasa.

Ukuran : 172 x 96 Cm

Penggunaan :
  1. Sebagai pakaian luar bagian bawah untuk Laki-laki yang disebut gonje (sebagai kain sarung). Kain ini dipakai oleh Putra Karo untuk semua upacara Adat yang mengharuskan berpakaian Adat Lengkap.



11. UIS Beka Buluh 
 
Uis Beka Buluh ini memiliki ciri Kegembiraan, Tegas dan juga Elegan. Kain Adat ini merupakan Simbol Wibawa dan tanda kebesaran bagi seorang Putra Karo.

Ukuran : 166 x 86 Cm
 Penggunaan:
  1. Sebagai Penutup Kepala. Pada saat Pesta Adat, Kain ini dipakai oleh pria/putra Karo sebagai mahkota di kepalanya pertanda bahwa untuk dialah pesta tersebut diselenggarakan. Kain ini dilipat dan dibentuk menjadi Mahkota pada saat Pesta Perkawinan, Mengket Rumah (Peresmian Bangunan), dan Cawir Metua (Upacara Kematian bagi Orang Tua yang meninggal dalam keadaan umur sudah lanjut)
  2. Sebagai Pertanda (Cengkok-cengkok /Tanda-tanda) yang diletakkan di pundak sampai ke bahu dengan bentuk lipatan segi tiga.
  3. Sebagai Maneh-maneh. Setiap putra karo dimasa mudanya diberkati oleh Kalimbubu (Paman, Saudara Laki-laki dari Ibu, Pihak yang dihormati) sehingga berhasil dalam hidupnya. Pada Saat kematiannya, pihak keluarga akan membayar berkat yang diterima tersebut dengan menyerahkan tanda syukur yang paling berharga kepada pihak kalimbubu tadi yakni mahkota yang biasa dikenakannya yaitu Uis Beka Buluh. 



12. UIS Jujung-jujungen 
 Untuk melapisi bagian atas tudung bagi kaum wanita yang mengenakan tudung dalam upacara adat. 


 Ukuran : 120 x 54 cm

Penggunaan :
  1. Kain ini dipakai hanya untuk lapisan paling luar penutup kepala wanita (tutup tudung) dengan umbai-umbai emas pada bahagian depannya.




13. UIS Perembah

 Ukuran : 160 x 67 cm

Penggunaan :
  1. Untuk menggendong bayi
  2. Untuk anak pertama, perembah diberikan oleh Kalimbubu seiring doa dan berkat agar anak tersebut sehat-sehat, cepat besar dan menjadi orang sukses dalam hidupnya kelak.



14. UIS Julu Diberu


Ukuran :
  1. Penggunaan :Untuk pakaian wanita bagian bawah (sebagai sarung) untuk upacara adat yang diharuskan berpakaian adat lengkap.

 sumber : http://karo-medan.blogspot.com/2010/05/pakaian-adat-karo.html

Jumat, 30 November 2012

Sejarah Suku Karo

MIGRASI
   Pada pra-sejarah terjadi perpindahan bangsa-bangsa termasuk di Asia yang khusus ke Indonesia datang dari Asia Selatan dan Tenggara. Percampuran darah terjadi antar  bangsa-bangsa tersebut dengan penduduk yang telah bermukim sebelumnya di Nusantara ini merupakan nenek moyang kita dan pada umumnya yang mendiami pesisir sebagai orang  bahari.

   Menurut Versi Karo: Leluhur hidup dari menangkap ikan, bertani, berburu, berdagang, mengarungi samudra luas. Hal ini diceritakan bersambung hampir setiap malam di lantai lumbung padi yang dinamakan ‘Jambur’ dari purbakala hingga menjelang tahun 1940 di daerah yang penduduknya suku Karo .

   Cerita yang bersambung mengenai seluk beluk asal muasal suku Karo, kebudayaan, bahasa dan adat istiadat serta perjuangan hidupnya biasanya di namakan ‘Turi-turin atau Terombo Karo’. Setiap cerita ditayangkan  melalui lagu merdu pada malam hari sampai dini hari selama tujuh malam.

   Aku dulu pernah mendengarkan cerita bersambung itu sebelum memasuki bangku sekolah. Karena sudah dilalui puluhan tahun, bisa jadi ada kelupaan dalam menguraikan  inti sarinya, terutama pencocokan daerah kejadian saat dipergunakan  pengetahuan umum geografi dan sejarah dunia atau nasional dalam keadaan tertentu menurut suasana hikayatnya.

   Pada pokok hikayat di uraikan bahwa nenek moyang itu datang ke pesisir Indonesia umumnya dan  Sumatera khususnya  yang menurut logat mereka “reh ku pertibi si la ertepi  enda” dari dua “negeri nini pemena” yaitu leluhur Pemula, datang dari dari negeri yang disebut “YUNA ( YUNAN )”  ialah dari Cina Selatan dan Asia Tenggara serta “BARAT” yakni Asia Selatan (India , Pakistan, Banglades, dan lain- lain).

   Yang datang dari negeri “Yuna” itu masih tergolong “animisme” atau “agama pemena”, sedangkan yang bersal dari “Barat” sudah beragama, yaitu agama Budha. Suku-suku bangsa pesisir yang saling bercampur darah (perkawinan) sesamanya inilah merupakan nenek moyang  suku  Karo  setelah kelak masuk ke daerah pedalaman (Pembauran).


PEMUKIMAN DATARAN TINGGI  KARO  
    Leluhur kita yang  yang bermukim disepanjang  pesisir Sumatera  berkembang  memeluk  kepercayaan yang beraneka ragam yaitu animisme, Budha, Hindu, dan lain-lain, sebelum maupun sesudah berdiri Negara Nasional I (Kedatuan Sriwijaya) dan Negara Nasional II (Keprabuan  Majapahit) antara abat VII-XVI.

   Karena pekerjaan nenek moyang kita selaku kaum bahari dan pedagang, maka sudah jelas merekapun bergaullah dengan orang asing yang memeluk pelbagai agama, termasuk  Muslim, sehingga kian lama makin banyaklah agama yang dianut penduduk.

   Perbedaan agama pun tak dapat dihindahkan. Yang dalam turi-turi Karo diceritakan bahwa dalam satu keluarga mungkin terdapat dua atau beberapa kepercayaan yang berlainan, antara satu dengan yang lainnya. Begitu juga bangsa asing yang memeluk pelbagai macam agama datang ke Indonesia untuk berdagang sambil menyiarkan agamanya masing-masing. Selain membawa keagamaan juga mengenai kebudayaan yang mempengaruhi tata kehidupan penduduk.

   Demikianlah seorang pedagang Venesia benama Marcopola pada tahun 1292 telah menyaksikan perkembangan pesat penyiaran agama Islam didaerah Aceh yaitu Samudera Pasai dan Peureulak. Pada tahun 1345, menurut Ibnu Batulah, sudah mapan benar agama Islam sebagai anutan  penduduk Di Samudra Pasai, yang keterangannya ini diperkuat pula oleh musyapir Cina bernama Ceng Ho, yang berkunjung ke daerah tersebut tahun 1405.

    Menurut versi karo, pada masa-masa itulah terjadi perubahan tata kemasyarakatan yaitu kaum yang tak hendak memeluk agama Islam membentuk kelompok-kelompok. Lalu berpindah ke daerah pedalaman meninggalakan sanak keluarga yang telah mayoritas beragama Islam. Kemudian agama Islam meluas berkembang sepanjang pesisir; terutama dalam pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636).

  Kemudian maka terjadilah apa yang dinamakan “Mburo Bicok Pertibin”, yaitu mengadakan pengungsian secara besar-besaran  dengan bertekad untuk tidak akan kembali lagi ke negeri asal buat selama-lamanya. Diceritakan pada masa itu hutan raya di daerah pedalaman belum dihuni  oleh manusia .

    Bahasa “kita” ialah cakap melawi - , yang kemudian berubah seperti yang sekarang ini. Perubahan bahasa terjadi akibat peroses pembauran melalui puak-puak yang saling mempengaruhi satu dengan lainnya dalam kehidupan adalah logis. Sebagian mereka yang masuk kepedalaman dari arah pantai Timur maupun dari arah pantai Barat, pulau Sumatera.

    Mereka yang tertinggal sudah memeluk agama Islam dan hijrah tidak hendak memeluk Islam. Perjalanan memasuki rimba hutan belantara itu, sangat sukar, perlu ada pemimpin atau Panglimanya. Mereka masuk dan beranggapan bahwa ditempat yang dituju itu religinya/kepercayannya itu akan aman dilanjutkan sebagai warisan nenek moyangnya.

    Diketahui dalam hikayat bahwa pemeluk Islam, selalu mangadakan pendekatan dengan saudara-saudaranya yang kini berada di wilayah pegunungan dan bergaul saling berkunjung, akhirnya, kaum yang tadinya mempertahankan kebiasaan memuja religi nenek moyangnya itu pelan-pelan  ditinggal mereka dan mereka memeluk Islam. Atau diam-diam status quo, sementara menimbang-nimbang mana patut dilanjutkan dan mana patut diterima, atau ditolak.

   Selanjutnya perjalanan yang sedemikian jauhnya yang disebut ke-dataran tinggi dinyatakan sebagi “taneh tumpah darah” yang baru kemudian di berikan nama “TANAH KARO SI MALEM”

PERTIBI PERTENDIN MERGA SI LIMA SI ENGGO KA REH IBAS  DESA SI WALUH  NARI
   “Tanah Karo Si Malem”  artinya : peryataan bahwa tanah tumpah darah yang baru itu nyaman, hidup atau mati, akan dipertahankan selamanya. 

   "Pertibi Pertendin Merga Silima" artinya: Dibata yang telah menetapkan daerah ini untuk pemukiman kaum yang LIMA MARGA terdiri dari : Karo-Karo, Ginting, Sembiring, Tarigan, Perangin- angin.

   “Sienggo ka reh ibas desa siwaluhn nari” artinya: untuk jangka waktu yang lama  tak henti-hentinya datang rombongan pengungsi dari segala penjurui mata angin (delapan  penjuru) kedataran tinggi, sehingga menjadi buah bibir setiap ada rombongnan terlihat datang dari pesisir, terucaplah kata-kata, enggo ka reh… enggo kalakreh enggo kalakreh…( Kareh ) kemudian berubah sebutannya kalak reh, kareh … kare, Karo, menjadi … KARO, yang artinya  kalak= orang . reh = datang, Karo = orang datang. Artinya menjadi; orang yang datang sengaja mengungsi untuk mempertahankan religinya/kepercayaaannya. Mereka datang dan mengharukan, sebab perjalan mereka itupun jauh, lebih kita terharu, KALAK AROE = KARO Mereka itu melanglang, berani, harus keras hati, mandiri, budi luhur tetapi suka bermusyawarah dan mau menerima atau tidak kaku.

    Terlihat dalam perkembangannya Merga Karo-Karo, Perangin-angin, Sembiring sebelum berangkat meninggalkan leluhurnya di “Barat” tempo dulu sudah memiliki Indentitas berupa Merga dan Cabang  Merga, seperti Merga Ginting dan Merga Tarigan bersasal dari YUNA (Wilayah Selatan; bahkan ada hubungan atas serangan Mongolia dari utara Jengis Khan  dsb).

   Jatidiri berupa “Merga” telah disandang turun temurun. Oleh karena itu sekalipun kelompok itu baru tiba akan mendapat kemudahan untuk mengelompokkannya sesuai Merga yang disebutkan orang yang baru datang. Di Suku Karo hanya ada LIMA MARGA, dan memiliki cabang untuk setiap marga. Sekalipun ada cabang-cabang tiap Marga, tapi tidak terlalu banyak, tidak mencapai ratusan jumlahnya keseluruhannya. Keseluruhan cabang Merga Silima hanya ada 75 cabang.

   Meneliti sejarah maka pemukiman orang Karo di dataran tinggi diperkirakan pengungsian awal sekitar tahun 1350-an dan terbanyak tatkala pemerintahan Sultan Iskandar Muda tahun 1660-an sehingga disimpulkan bahwa sudah ada orang Karo tahun 1300-an.

   Orang Karo yang datang dengan rombongan tempo dulu ke hutan rimba raya tidaklah besar, sekalipun persyaratannya berangkat “KUH SANGKEP SITELU” yaitu Kalimbubu, Senina, Anak Beru. Contohnya dalam cerita bahwa rombongan KARO mergana, berangkat dari LINGGA RAJA menuju dataran tinggi, sampailah di puncak “Deleng Penolihen” yaitu pegunungan antara “Tiga Lingga-Tiga Binanga” terpaksa di tunda perjalannya. Sekalipun jumlah rombongan sebelas, tetapi tertinggal anak beru-nya Perangin-angin mergana. Terpaksa di jemput lagi kearah asal atau memberi gantinya sebagai  “anak beru”.

   Terpenuhilah syarat tadi, tiba mereka disuatu lokasi dan mendirikan “KUTA LINGGA PAYUNG”. Sejak itu nama bukit barisan diantara  Karo-Dairi disebutkan oleh  orang Karo “Deleng Kuh Sangkep”. Setiap orang Karo mesti dapat dimasukkan dalam salah satu diantara lima marga tersebut diatas, sebab barang siapa yang yang tidak hendak memakai indentitas demikian, tidak akan diakui sebagai “Kalak Karo” yang dinamakan “nasap tapak nini”, misalnya, banyak dahulu terjadi orang yang “tercela akhlaknya” di desanya lalu merantau ke-negeri lain tanpa mejunjujung tinggi merganya atau menggantinya, orang yang memeluk agama Islam dengan menghilangkan indentitasnya itu seraya mengaku orang Melayu kampung atau “kalak Maya-Maya” terutama di Karo Jahe dan lain- lain .

   Tetapi sebaliknya setelah terbentuk SUKU KARO, dahulu ada orang dari suku lain sekalipun yang oleh sebab misalnya, mengadakan perkawinan dengan orang Karo bisa diterima Bermerga atau memiliki Beru pada salah satu merga diantara yang lima tersebut. “Merga” ialah indentitas pria yang diturunkan terhadap putrinya akan dinamakan “beru”. Beru adalah indentitas wanita yang diturunkan terhapa putra-putrinya umpamanya , beru Karo, diturunkan kepada putra putrinya dengan sebutan bere-bere  Karo.

    Semua indentistas tersebut merupakan lambang suci yang dalam bahasa Karo dinamakan “Tanda Kemuliaan” yang gunanya untuk menghitung berapa tingkat keturunan telah berlangsung merga bersangkutan hingga dirinya sendiri sejak dari nenek moyang yang dahulu berangkat dari negeri asalnya yaitu (Barat) bagi keturunan Karo-Karo, Perangin- angin dan Sembiring, sedangkan  “Yuna” untuk Ginting serta Tarigan.

    Hitungan jumlah tingkat keturunan itu dinamakan “Beligan Kesunduten Nini Adi” yang dahulu turun temurun diceritakan sehingga tahulah sesorang akan asal usul dan  nenek moyangnya. Putra-Putri yang seketurunan pantang mengadakan kawin mawin sesamanya, sebab indetitasnya akan sama buat selama-lamanya, kendatipun dengan memakai “Sub Merga”, yaitu “nama khusus” yang diciptakan berdasarkan keluarga tertentu dalam suatu desa dan atau sesuatu peristiwa dahulu yang merupakan aliran darah khas pula, namun harus tunduk kepada pokok merga, Merga Silima.

   Jadi orang Karo terbentuk dari bermacam-macam suku atau puak bangsa yang oleh pengaruh lingkungan daerahnya membentuk watak, adat istiadat dan masyrakatnya yang tertentu yang mempunyai perasamaan serta perbedaaan dengan suku-suku bangsa Indonesia lainnya, namun bersifat “mandiri” dalam arti sejak dahulu bebas merdeka mengatur pemerintahannnya.

   Akan tetapi karena Tanah karo merupakan daerah pedalaman yang tidak akan dapat berswasembada dalam segala hal akan kebutuhan hidupnya, maka terpaksa jugalah mereka mengadakan hubungan dengan “suku” atau “bangsa lain” terutama mengenai bahan makanan seperti garam  yang disebut “Sira”.

   Mereka langsung menyebarkan penduduknya keluar batas dataran tinggi karo yang berguna sebagai daerah pengubung dan penyangga serangan dari luar yang menurut logat mereka dinamakan “Negeri Perlanja Sira Ras Pulu Dagang” yang kini daerah-daerah tersebut ialah Aceh Tenggara, Dairi, Tapanuli Utara, Simalungun, Asahan, Deli Serdang, dan Langkat.

   Pulu dagang ialah pedagang yang membeli garam dan lain-lain di pesisir seperti di Langkat, Deli Serdang, Asahan, dan Singkel yang di angkut ke ‘Taneh Pengolihen-Tanah Karo” oleh satu rombongan manusia yang diberi nama julukan Perlanja Sira, meski ada juga mempergunakan “Kuda Beban” sebagai alat pengangkutannya. Setiap rombongan perlanja Sira dikawal oleh pasukan bersenjata, sebab waktu itu di Deleng Kuh Sangkep (nama bukit barisan yang terletak di bagaian selatan Tanah Karo) maupun di Deleng Merga Silima (nama Bukit Barisan dibagian dataran tinggi Karo) banyak penyamun serta binatang buas.

    Untuk mengenal kawan dipakailah kata “sandi atau kode” di pegunungan sebelah utara  tanah Karo setiap berpapasan dengan rombongan manusia lain diucapkan “Merga” yang kalu kawan menjawab..”Si Lima” yang dilanjutkan dengan. "Taneh Pengolihen" yang dijawab teman “Karo Simalem” bila mana tidak sesuai jawabnya dianggap “musuh”, demikian sekelumit ceritanya  maka nama pegunungan yang puncak-puncaknya antara lain gunung Sinabung dan gunung Sibayak dinamakan orang  Karo "Deleng Merga Silima".

Sumber : karobukanbatak.wordpress.com

Jumat, 16 Desember 2011

Gambaran Umum Jati Diri Karo

Masyarakat Karo Dinamis dan Patriotis serta taqwa kepada Tuhan YME. Masyarakat Karo kuat berpegang kepada adat istiadat yang luhur, merupakan modal yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembangunan.
Dalam kehidupan masyarakat Karo, idaman dan harapan (Sura-sura pusuh praten) yang ingin diwujudkan adalah pencapaian 3 (tiga) pokok yang disebut TUAH , SANGAP dan MEJUAH – JUAH.

TUAH berarti menerima berkah dari Tuhan YME, mendapat keturunan, banyak kawan dan sahabat, cerdas, gigih, disiplin dan menjaga kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup untuk generasi yang akan datang.

SANGAP berarti mendapat rezeki , kemakmuran bagi pribadi, bagi anggota keluarga, bagi masyarakat serta bagi generasi mendatang.

MEJUAH-JUAH berarti sehat sejahtera lahir bathin, aman , damai , bersemangat serta keseimbangan dan keselarasan antara manusia dengan manusia , antara manusia dan lingkungan , dan antara manusia dengan Tuhannya.
Ketiga hal tersebut adalah merupakan satu kesatuan yang bulat yang tak dapat dipisahkan pisahkan satu sama lain.
Sumber: http://www.facebook.com/#!/groups/sapoholland/doc/283095838373682/

Kamis, 15 Desember 2011

About Karo Bukan Batak

   Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Suku Karo mempunyai sebutan sendiri untuk orang Batak yaitu Kalak Teba umumnya untuk Batak Tapanuli. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas. 

KAMUS BAHASA MEDAN


Catatan:
e (italic) dibaca taling seperti pada ejaan bebek
e biasa dibaca seperti pada ejaan belajar

A
Aci = boleh… nggak/mana aci (nggak boleh..)Anak muda = jagoan, aktor pemeran utama
Ambal = sajadah
Awak = aku, saya; bisa juga kamu (“sombong kali awak ini”, artinya: “sombong banget lu”)
Alip = permainan
Alip cendong/benteng = permainan menjaga tiang, sementara lawan berusaha menyentuh tiang tersebut, sambil menghindari kejaran para penjaganya.; Alip berondok = petak umpet
Angek = dari bahasa Minang (panas) ร  iri, cemburu, nggak suka
Apek = panggilan buat lelaki Tionghoa yang sudah tua.
Alamak = celetukan; berasal dari Alah, Mak… (aduh, Mak; waduh/Jawa)
AS = (baca A Es) Ajo Sukarame, panggilan buat pembuat sepatu yang banyak berasal dari suku Minang dan menetap di kawasan Sukarame (sepatu kauw buatan AS ya?)

B
Balek= maksudnya: balik.
Bedangkik = hitung-hitungan, pelit
Bocor alus = agak gila
Bang = 1) panggilan umum buat lelaki yang lebih tua (permisi, Bang..); 2) azan (coba kau bang dulu, udah masuk waktu zuhur ni..)
Belacan = terasi
Bonbon/Bombon = permen
Berselemak = berlepotan (ngomong kau kok berselemak gitu?)
Bereng = melirik tajam (Alamak, diberengnya kita); kata serapan dari Batak?
BK = plat kendaraan bermotor (Plat motor di Medan memang BK. “BK motor kau berapa?”)
Balen = minta.. ( Bagi dong?! bahasanya jadi… Balen lah…?!)
Berondok = bersembunyi; ngumpet
Bolong = lobang
Bedogol = bego (bedogol kali kau!)
Berhanyut = pergi ke hulu sungai, lalu menyusuri aliran sungai dengan berenang atau menggunakan pelampung dari ban dalam bekas. (kami beranyut dari gedong johor sampai ke polonia).
Begadang; kerupuk begadang = sejenis kerupuk yang berwarna coklat, biasanya berbentuk segi empat.
Baling/Baleng = rusak, ada yang tidak beres (ban keretanya kutengok baling, la… Udah kau perbaiki?)
Bendol = benjol
Bengap = Babak belur
Berantam = berkelahi
Berantuk = versi lain dari berantam
BK = plat kendaraan bermotor (Plat motor di Medan memang BK. Jadi kita sering ditanya, “BK motor kau berapa?”. BK ini sudah jadi generik, sama seperti Aqua atau Rinso)

C
Cakap = ngomong, berbicara (banyak kali cakapnya)
Celit = pelit
Cak = singkatan dari coba… (Cak kau maenkan lagu itu = coba kau maenkan lagu itu)
Cuak = penakut
Cengkunek = lagak, omong kosong (jangan banyak cengkunek lah..)
Cendek = plesetan dari pendek, dangkal/cetek (Airnya cendek kok, nggak usah takut tenggelam lah..)
Cop = ucapan sebagai pertanda minta rehat/istirahat dulu (Aku cop ya, mau ke WC dulu); atau isyarat memilih lebih dulu (Cop, aku ambil yang ini ya).
Celat = cadel (nggak bisa bilang r)
Cem; Cam = seperti, macam, kayak, biasa dipadukan dengan kata: mana (Cemmana jadinya; bagaimana jadinya); lihat kek; kek mana
Cincong = omong, alasan; Jangan banyak cincong = jangan banyak omong
Cekot = julukan buat orang yang lengannya cacat, tidak bisa diluruskan, seperti –maaf—tokoh Gareng di perwayangan).
Congor = mulut (kasar).
Cari angin = keluar (rumah atau ruangan) untuk bersantai, refreshing (Kutinggal dulu ya, aku mau cari angin dulu…)

D
Dongok/dogol/bedogol = bodoh, pandir
Dekak-dekak = abacus, alat hitung Cina dari jajaran kayu (biasanya 10 baris) yang masing-masing jajar terdiri atas 10 bola sebagai satuan hitung.
Deking = beking
Demon = 1) demonstrasi; demo (pak keplor didemon sama warganya sendiri..); 2) hebat, gaya (pembalap itu demon kali, ah..)
Doorsmeer = bukan semir pintu, tapi istilah untuk tempat yang menyediakan layanan cuci mobil/motor

E
Enceng = selesai, habis
Ecek-ecek = pura-pura (Ecek-eceknya kita ini pejabat la ya)
Estra = maksudnya ekstra, preview film di televisi atau bioskop (aku belom sempat nonton di bioskop, tapi estranya udah).

F

G
Gacok = jagoannya (mana gacok kau, kita adu)
Guli = kelereng
Getek = genit
Gaprak = dari jawa; hantam kaki dalam sepakbola atau permainan (kakinya digaprak lawan)
Gedabak = besar (gedabak kali badan abang!)
Gerepes = geripis, gigi yang hancur atau terkikis karena banyak makan makanan manis (Itu lah, banyak makan bonbon, akhirnya giginya gerepes semua)
Gecor = besar mulut, ga bisa menyimpan rahasia
Gerot = akronim dari geger otak; merujuk pada orang yang tingkahnya aneh, gila.
Goni botot = julukan buat penjual atau pembeli barang-barang bekas. Mereka berkeliling kampung, membeli kompor rusak, kertas/koran bekas, dsb.
Gelut = berkelahi
Golek-golek = berbaring-baring santai; tidur ayam
Gosok = setrika (kau gosok dulu pakaian ayahmu itu); gosokan = setrikaan
Gobi = ikan kecil yang hidup di got/parit. Bahasa ilmiahnya Lebistes reticulatus. Suka dijadikan mainan anak-anak. Di Jawa disebut ikan seribu.
 
H
Hajab = hancur
Hambus = pergi! (jauh-jauh). Kata ini suka dipakai oleh koran Waspada.
Hubar-habir = berantakan, acak-acakan, idem
Honda = sepeda motor (walaupun mereknya bukan Honda, tetap aja disebut honda, hihihi…..)

I
Ikan laga = maksudnya ikan cupang/ikan aduan (Beta splendens)

J
Jelutung = kayu albasia (yang lunak dan biasa untuk bahan prakarya)

K
Kuaci = bukan kwaci makanan, tapi permainan berupa cetakan plastik yang berbentuk beragam wujud, ada Bruce Lee, kelinci, gajah, mobil, dsb. dipakai utk mainan, juga sebagai barang taruhan. Kerepak peak = makian, mengacu pada kondisi ancur-ancuran.
Kelen; kelien = kalian
Kau = engkau, anda (tidak dibaca ka-u — u dalam utang; atau kaw, tetapi di antara keduanya: kauw — w nya lemah)
Kilik = mirip lego; mendrible bola (dikiliknya bola itu sampai pemain lawan terkecoh)
Kede/kedai = warung
Kede sampah = warung kelontong kecil (bukan warung jualan sampah, hehehe)
Kedan = teman, sohib (Abang ini kedan kita juga)
Kereta = sepeda motor
Kereta Angin = sepeda
Kerabu = anting-anting
Kali = dari pemendekan kata ‘sekali’; berarti banget, sangat (“hebat kali kau!” Artinya, “lu hebat banget deh!”)
Kak = panggilan untuk orang (perempuan) yang lebih tua atau dituakan (sama dengan Mbak di Jawa)
Kiri = minggir (“Kiri kau!”…, maksudnya: “minggir lu!”)
Keplor = kepala lorong
Kepling = kepala lingkungan
Kongsi : Bagi-bagi, sama rata…
Koyak = robek == celanaku koyak; kukoyak-koyak kertas hasil ujianku
Kek = kayak, biasa dipadukan dengan kata mana (kek mananya kau: bagaimana sih kamu ini);lihat juga cem/cam
Kelir = pinsil warna (kt. benda), mewarnai (kt. kerja)
Kocik = dari bahasa Melayu (?), berarti kecil
Kornel = tendangan pojok/penjuru dalam sepak bola. Plesetan dari “corner” (corner kick)
Kopek = kupas, kelupas (jangan kau kopek lukanya, nanti tambah parah).
Kombur = cakap, banyak omong.
Kondor = kendor, longgar (celanaku kondor, harus dikecilkan)
Kamput = singkatan dari kambing putih, merek minuman keras murahan (si Ucok tenggen gara-gara minum kamput).
Kalok = maksudnya: kalau, “k” terakhir dibaca seperti huruf hamzah/aposthrope
Ketara = maksudnya: kentara – tampak, terlihat jelas, tercirikan dengan mudah.
Kiput = varian lain dari kembut.
Kembut = deg-degan, takut (begitu dipanggil Pak Kepsek, Inong langsung kembut)

L
Lembe = lemah, lemes
Lewong = 1) putus ;(layangan lewong); 2) hilang, raib (Lewong uangku disikat dia…)
Litak = habis, kondisi capek sekali – dari Padang? (Litak kali badanku)
Lorong = gang (kau tinggal di lorong apa)
Ligat = lincah, lihai (ligat kali dia kalo kerja)
Lantak = habis; habisi (dilantaknya semua hidangan itu. Rumah itu dilantak si jago merah)
Lengkong = cincau hitam, buat campuran es sirop
Lego = drible bola (Ronaldo jago kali ah nge-lego bola)
Locak = kalah terus menerus (aih mak, locak kawan tu pas main ceki);
Batu locak => sejenis permainan dengan batu pipih dengan kelereng atau benda bulat kecil lainnya. Si kalah berusaha melempar kelereng atau bolanya ke dalam lubang sasaran, sementara pemain lainnya berusaha menjauhkan bola itu, atau setidaknya melempar melampaui bola, agar tidak kalah.
Loak = payah (Loak kali kau pun, gitu aja nggak bisa)
Lepoh = bodoh (Lepoh kali, gitu aja nggak bisa)
Lobok = kedodoran, kebesaran (celananya lobok, Mak… bisa dikecilin?)
Lereng = sepeda besar = sepeda janda (e pada “le” dan “reng” dibaca seperti menyebut pada kata lele)
Lengger = plesetan dari tabrak (mati dia dilengger truk)
Langgar = musola (Pak Haji biasa sembayang di langgar)
Limpul = lima puluh (dipakai untuk menyebut uang Rp 50 atau Rp 50.000)
Limrat = lima ratus (dipakai untuk menyebut uang Rp 500 atau Rp 500.000)
Limper = lima perak (dipakai untuk menyebut uang Rp 5. Sekarang uang pecahan ini sudah tidak ada, jadi istilah limper pun mungkin sudah hilang).
Lasak : Banyak gerak, ga bisa diam.
Lencong; tai lencong = tahi ayam yang hijau, bentuknya seperti pucuk es krim menjulang (hueeek..)
Lokal = kelas (si Adi lagi di lokal, belum keluar)
Longoh = bodoh, tolol (dasar longoh, udah tau bahaya bukannya menghindar)
Lepuk = pukul (dilepuk orang sekampung dia).
Leles = n: sisa-sisa (aku ambil lelesnya aja); sifat: dia itu tukang leles (suka ambil sisa-sisa orang lain).
Lantam = pedas mulut, nyelekit (si Ida itu memang lantam kali, la)
Lenje = lain jiwa (sarap)

M
Mamak = ibu, mama
Mamak-mamak = mengacu pada orang yang lamban, tidak gesit (jalan kau pun kayak mamak-mamak)
Mentel = genit, centil
Mengkek = manja
Mereng = miring, sering juga disebut mencong
Merling = bercahaya, mengkilap (kalungnya merling kali..)
Motor/montor = mobil
Minyak lampu = minyak tanah
Monza = akronim dari Monginsidi Plaza, tempat jualan pakaian bekas; mengacu pada penyebutan semua jenis barang second/bekas (celana monza ya?)
Merepet = mengomel, marah
Manipol = akronim dari mandailing polit = mandailing pelit /kikir; istilah stereotip suku mandailing, suku di Kab. Tapanuli Selatan. Padahal belum tentu benar.
Melalak = hobinya keluar rumah, ga betah di rumah, sebuah sifat perempuan yang negatif
Mentiko = belagu, sifat orang yang suka merasa paling hebat dan suka cari masalah
Merajuk = ngambeg
Main-main; keluar main-main = Istilah untuk jam istirahat sekolah (“Keluar main-mainnya jam berapa ya?”)
Masuk angin = melempem (khusus buat makanan, kue, atau kerupuk) — kerupuknya nggak enak, udah masuk angin…

N
Nona = aktris utama (siapa nonanya, Hema Malini?)
Nembak = bukan menembak, atau nembak cewek, tapi istilah untuk makan tapi nggak bayar (si Ucok nembak di warung Kak Ipah).
Ngeten = (dari bahasa Batak?), artinya mengintip.
Nungkik = maksudnya nukik (menukik). Dipakai spesial utk istilah Muntah Nungkik = muntah yang sejadi-jadinya (sampai orang ybs tertunduk-tunduk)
bisa-bisanya ya??

O
Ompa’an = sifat orang yang suka dibaik-baikin
Oyong = terhuyung2x, limbung
ODB = tontonan gratis ala misbar (gerimis bubar); pemutaran film keliling. Biasanya diadakan tiga bulan sekali di asrama-asrama tentara atau polisi. Aslinya dari bahasa Belanda: O… Deli Bioscoop.

P
Palar = dipaksa-paksain
Pala : Ga seberapa (Contoh :D ia ga pala jahat kali lah sama aku…); dicukup-cukupkan
Pakek = maksudnya: pakai, “k” terakhir dibaca seperti huruf hamzah/aposthrope
Pesong = gila, tidak waras
Pukimbek, pukilik = sialan, makian
Pajak = pasar
Perli = menggoda, flirting seseorang utk menjadi pacar (Cantik kali anak gadis wak Alang tu. Kalau kuperli mau nggak dia ya?)
Pasar = jalan raya
Pening = pusing
Paten = hebat
Pinggir = kiri (perintah untuk menyuruh sopir berhenti, biasanya penumpang berkata “pinggir” (bukan “kiri”).
Pusing = keliling
Palak : Sebel, marah.
Perei = libur (slang dari free)
Ponten = nilai
PHR = istilah untuk bioskop murahan. Singkatan dari Panggung Hiburan Rakyat (aku dulu suka nonton di PHR Morsip di Jl. Soetomo Ujung, PHR Serdang, dan PHR Bahagia di Jl. Pasar Merah)
Panglong = toko tempat penjualan material bangunan
Porlep = sebutan untuk kuli angkut barang di Polonia atau Pelabuhan Belawan
Paret = maksudnya parit, got
Pakansi = hari libur, liburan
Pakpok = pulang pokok, impas (break event point)
Pekak = tuli (percuma kau teriak, dia orangnya memang pekak)
Pencorot = nomor urut paling akhir, pecundang (di kelas, dia pencorot)
Pauk/Paok = Payah, nggak keren, bodoh (Paok kali pun kau, gitu aja nggak bisa)
Pen = urutan ke (aku pen 2, ya, kau pencorot aja) — pencorot = lihat entri sebelumnya.
Petentengan = belagu, banyak lagak.
Pulak = maksudnya: pula; Cemmana pulak abang ni (bagaimana pula abang ini?)
Pengkor = tangan atau kaki yang (maaf) cacat bengkok. “Orang itu kakinya pengkor…
Preman lontong = preman yang klemak-klemek, lemes tidak garang
Pakcik = arti sebenarnya adik dari ayah/ibu. Dipakai sering utk panggilan ke teman. (jangan gitulah pakcik, sama-sama cari makannya kita ni..)
Pakek = maksudnya: pakai, “k” terakhir dibaca seperti huruf hamzah/aposthrope
Petentengan = belagu, banyak lagak.


Q

R
Rodam = siksa, dimapram (“sebelum dilantik, kami dirodam dulu semalaman)
Raun-raun = jalan-jalan berkeliling (dari bahasa inggris: round-round=keliling-keliling)
RBT = Ojek (RBT adalah singkatan dari Rakyat Banting Tulang :)
Rupanya = ternyata… ( Contoh : di sini kau rupanya! aku cari-cari kemana-mana)
Recok = ribut, berisik
Rol = penggarisan, mistar (kt. benda)
Rusuh = grasa-grusu (“Rusuh kali kelien, tenang sikit kenapa?”)
Reket = maksudnya raket, merujuk pada bermain bulutangkis/badminton. (main reket kita yuk). รจ reket pingpong= maksudnya raket/bed/alat pemukul pada olahraga pingpong

S
Sarap = tidak waras, gila (yang sarap-nya kauw? Kamu gila ya?)
Sedeng = gila, sinting
Senget = tidak waras, gila
Silap = salah, keliru – kalau awak tak silap —
Simpang = perempatan, atau pertigaan jalan
Selow = slang dari slow (lambat)
Semak = kumuh, berantakan, kacau (semak kali kamar ni… semak muka kau kulihat)
Sepeda Janda = sepeda berpalang ala jaman dulu, suka dipakai ibu-ibu atau buruh kebun…
Setil = gaya, keren (setil kali dia malam ini, mau pergi kenduri ya?)
Sengak = ketus (jangan la sengak gitu cakapnya….)
Somboy = sejenis makanan cina yang populer, dari sejenis buah yang dikeringkan, berwarana merah dan diberi lapisan tepung yang rasanya asin, manis, asam.
Setalen = satuan nilai uang, kira-kira ….. rupiah (dulu masih sering ditemukan jajanan seharga setalen, tapi sekarang tidak lagi).
Sikit = plesetan dari sedikit
Sudako = angkot
Sor = syur, suka; sor kali aku lah ama cewe tu..
Selop = sandal
Setip = penghapusan (kt. benda), menghapus (kt. kerja)
Siap = selesai; done (tugasku udah siap, jadi aku bisa santai sekarang)
Seken = salaman (dari bhs Inggris: shake hand) – kalo cocok, seken dulu kita….
Seje = bo’ong
Sempak = maksudnya swim pack; celana renang utk lelaki. Dipakai lebih untuk menyebut celana dalam pria. (Sempaknya merek GT-Man)

T
Tungkik = teler, cairan di kuping (ih, jijik)
Tumbuk = pukul , kutumbuk kau nanti…
Telekung = mukena
Titi = jembatan (kalo mau ke rumahnya, kau harus lewat titi besar itu, baru sampe)
Tonggek = bokong yang montok
Tepos = lawan tonggek
Tokok; menokok = 1) memalu, memaku (tolong kau tokok dulu paku ini di papan itu); 2) pukul, jitak (ditokoknya kepalaku, Kak, sakit lah)
Tekek = versi jitak yang lain lagi…
Tepung roti = tepung terigu
Tarok = meletakkan (coba kauw tarok tasmu di atas meja)
Teratak = atap tambahan, biasanya dibangun jika ada pesta atau musibah kemalangan di rumah
Terei = dari kata try (inggris), artinya coba (Cak di-terei dulu barang ni…)
Terge = perhatian, peduli, acuh (udah setil habis dandananku, eh nggak di-terge sama dia)
Tekong; Tekongan = menikung; tikungan, simpang jalan (agak nekong kau sikit, biar nggak dilengger mobil; kutunggu kau di tekongan)
Takir = nasi bungkus/kotak yang biasa dibagikan saat kenduri atau tahlilan; lihat juga kata “berkat”
Tukam = melayat, takziah
Toyor = pukul; memukul, tapi dengan cara lain lagi (kayak upper cut, gitu) — maling itu kena toyor massa.
Texas = mengacu pada sifat Koboi Texas, seradak-seruduk. (Gaya kau teksas kali kulihat)
Toke = tauke, majikan atau pedagang Tionghoa.
Titi Gantung = tempat di kawasan lapangan merdeka, dekat stasiun KA Medan, yang dulunya banyak yang jualan buku (bekas).
Teronggok = tertumpuk
Tokoh = tipu (kt. benda); nokoh, menokoh (kt. kerja): menipu (anak itu kerjanya nokohin orang tuanya, hati-hati jangan mudah percaya)– tukang nokoh: tukang tipu

U
Uwak = (panggilan sopan untuk orang yang sudah tua, semacam bapak/ibu, atau kakek/nenek gitu deh)
Ubi = singkong; ubi rambat = ubi jalar
Ulok = sama dengan kombur; cerita yang dibesar-besarkan, dilebih-lebihkan (Palak aku sama si Daud, banyak uloknya dia itu….)

V


W
Woy = panggilan, seruan buat teman atau sekelompok orang (Woy, di mana kelien?)
Wak Labu = orang sok yang banyak gaya
WC = Toilet

X


Z

(Disadur dari www.kamus-medan.blogspot.com)