Text Line

Kita Bangsa yang Besar, Jangan Mudah Untuk Diadu Domba

Teks

Mohon Maaf Jika Anda Kurang Nyaman, Karena Blog Masih Dalam Perbaikan

Kamis, 22 Oktober 2015

Kivlan Zen : Program yang di Canangkan oleh Menhan sesuai dengan Pasal 27 Ayat 3


Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen
Be Bi Pro News, Jakarta - Pada hari Rabu minggu lalu, 14 Oktober 2015, Mantan Kas Kostrad, Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen menanggapi bahwa pentingnya program yang di canangkan oleh Menhan karena itu sesuai dengan Pasal 27 ayat 3, Kivlan juga menyebutkan "Undang Undang tentang keamanan nasional sebagai induk upaya Belanegara dan upaya Hankam rata".

Dalam hal ini program yang dicanangkan oleh Menhan adalah warga negara Indonesia di tuntut untuk menguasai dan mengaplikasikan dasar-dasar Bela Negara dengan adanya Rasa Cinta Tanah Air, Kesadaran dan Rela Berkorban dalam Berbangsa dan Bernegara, Meyakini Ideologi Pancasila serta Memiliki Kesiapan untuk Bela Negara, baik itu fisik maupun non fisik.

Kivlan juga mempertanyakan kepada Masyarakat Indonesia "Mau dijajah lagi oleh bangsa asing, atau orang asing bebas tanpa ada yang membela bangsa ini?".(UAK)





Sumber : Kivlan Zen

Sabtu, 26 September 2015

Kivlan Zen Tantang Jokowi


Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen
Be Bi Pro News, Jakarta - Jumat, 25 September 2015, Mantan Kas Kostrad, Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen mengomentari pernyataan Seskab Pramono Anung ketika di Istana Kepresiden pada selasa 22/9 kemarin, Pramono Anung menyatakan " Yang jelas persoalan permintaan maaf dan sebagainya itu tidak pernah di bicarakan dalam rapat-rapat kabinet maupun ketika kami mendampingi. Sikap presiden sudah disampaikan secara jelas bahwa konsentrasi beliau sekarang ini adalah menyelesaikan persoalan ekonomi yang sedang di hadapi bangsa ini".

Kemudian pada sore ini, Kivlan Zen berkomentar melalui Halaman Facebook pribadinya, berikut kutipannya:

https://www.facebook.com/Kivlan-Zen-865629610194043/timeline/

Dapat di lihat dalam kutipan gambar diatas sangat jelas, jika pernyataan Pramono Anung Benar, Kivlan Zen menantang Jokowi untuk mendesak menkumham agar mencabut ucapannya  yang pernah di lontarkan oleh menkumham sendiri dan menantang jokowi hadir ke Lubang Buaya serta menyatakan bahwa PKI adalah pemberontak dan tidak perlu rehabilitasi dan kompensasi terhadap keluarganya. (UAK)





Sumber : Kivlan Zen

USD Semakin Berkilau, Rupiah Masih Bertengger di 14.700 Per Dollar AS



Be Bi Pro News, Jakarta - Terus melemahnya nilai tukar rupiah yang hari ini yang menembus Rp 14.700 dinilai sebagai cerminan gagalnya paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah beberapa waktu lalu. Paket tersebut dinilai tidak membawa perubahan riil secara cepat.

"Kalau paket kebijakan ekonomi itu riil atau konkret, rupiah enggak akan tembus 14.700," ujar pengamat ekonomi sekaligus Direktur Eksekutif Institute National Development and Financial (Indef) Enny Sri Hartati, Jakarta, Jumat (23/9/2015).

Di mata Enny, paket kebijakan ekonomi susulan yang dikeluarkan pemerintah juga belum jelas kapan diluncurkannya. Pasar, kata dia, tetap diberikan ketidakpastian. Menurut Enny, paket kebijakan ekonomi tahap pertama seharusnya menjadi paket kebijakan yang konkret. Pasalnya, pasar pasti akan merespons paket kebijakan itu dengan positif meski sedikit.

Sayangnya, ucap Enny, pemerintah malah mengeluarkan paket kebijakan yang sangat banyak dengan cakupan yang luas, tetapi tidak riil untuk diterapkan. Akibatnya, kepercayaan pasar pun menurun karena tak sesuai ekspektasi.

"Harusnya konkret dulu, ini malah lebar sekali, sementara konkretnya enggak ada," kata dia.
 
 
 
 
 
Sumber: Kompas.com

Masih 36.000 Orang Pekerja Tekstil dan Jika di Total Seluruh Sektor Baru Ratusan Ribu yang di PHK



Be Bi Pro News, Jakarta - Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) telah mencatat Januari-September 2015 sudah ada kurang lebih 36.000 tenaga kerja yang kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat ekonomi yang lesu. PHK terjadi di 1.800 perusahaan anggota API yang mencakup sektor hulu dan hilir tekstil dan produk tekstil (TPT) yang total tenaga kerjanya mencapai 2,56 juta orang.

"Di tekstil dan produk tekstil ada 36.000 yang PHK, kalau total di seluruh sektor mungkin RATUSAN RIBU, bisa ditanya ke BPJS (Ketenagakerjaan) data yang di-PHK," kata Ketua Umum API Ade Sudrajat, Jumat (25/9/2015).

Ade mengatakan, gelombang PHK dan karyawan dirumahkan sudah terjadi sejak November tahun lalu yang dialami oleh 1.800 perusahaan anggotanya. Ia mengatakan, jumlah PHK berbeda-beda di setiap perusahaan. Ia juga mencatat ada perusahaan yang hanya merumahkan karyawan, bahkan ada yang sampai merumahkan sekaligus PHK.

"Ada 1.800 anggota API, semua hampir melakukan PHK, ada yang 10 karyawan, 20 karyawan, 100 karyawan dan lebih. Semuanya di sektor tekstil dan garmen, di hilir lebih sedikit, yang orientasi ekspor seperti garmen," katanya.

Ia mengatakan, sektor yang paling terpukul adalah sektor benang dan kain karena banyak mengandalkan pasar dalam negeri yang sepanjang tahun ini justru turun 50%. Sedangkan sektor garmen atau pakaian jadi relatif tak signifikan.

"Yang PHK hampir di semua daerah, ada juga di Jawa Barat 49% (dari data API), paling banyak," katanya.

Menurut Ade, berdasarkan informasi yang didapatnya dari BPJS Ketenagakerjaan (dulu Jamsostek), jumlah yang terkena PHK cukup besar. Ia mengungkapkan selama 1-15 September saja sudah ada 112.000 orang yang kena PHK di semua sektor.

Angka ini jauh berbeda dari data resmi yang disampaikan pemerintah. Sepanjang Januari hingga akhir Agustus 2015, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat hanya ada 26.506 karyawan yang terkena PHK.

Daerah dengan jumlah PHK paling besar adalah provinsi Jawa Barat dengan 12.000 orang. Selanjutnya adalah Banten dengan 5.424 orang, Jawa Timur dengan 3.219 orang, Kalimantan Timur 3.128 orang, dan DKI Jakarta 1.430 orang.

"Jadi kalau yang BPJS itu yang mengambil duit, sedangkan di ketenagakerjaan itu hanya yang melapor saja. Jadi lebih akurat orang yang mengambil duit (data BPJS)," katanya.



Sumber: Detik.c0m

Selasa, 25 Agustus 2015

Lagi-lagi Rupiah Melemah di Posisi Rp 14.137 Per Dollar AS


Be Bi Pro News, Jakarta - Kondisi rupiah terhadap dollar AS (USD) masih tertekan. Pada awal perdagangan di pasar spot Selasa (25/8/2015) pagi ini, rupiah bergerak di atas posisi 14.050.

lansiran data dari Bloomberg pada pukul 08.30 WIB menunjukkan, mata uang Rupiah berada di posisi Rp 14.065 per dollar AS, ini menunjukkan bahwa lebih rendah dibandingkan penutupan kemarin pada 14.049,5.

Kemarin, rupiah dibuka pada posisi 14.000 dan di tutup pada posisi 14.049,5. Rupiah kembali melemah lagi bersamaan dengan semakin kuatnya dollar AS di pasar negara berkembang. Harga minyak yang turun semakin dalam juga meningkatkan pesimisme terhadap prospek rupiah ke depan. "Minyak yang turun 6 persen hingga malam tadi berpeluang memperpanjang tekanan pelemahan terhadap rupiah yang sampai saat ini masih dibantu oleh intervensi Bank Indonesia," demikian Riset Samuel Sekuritas Indonesia.

Berbagai kebijakan terus diluncurkan oleh pemerintah maupun BI untuk mendukung stabilitas pasar keuangan tetapi kekuatannya masih jauh di bawah aliran dana keluar terutama oleh asing. Rupiah berpeluang kembali melemah hari ini.

Sampai siang ini terpantau di Bank Indonesia (BI) rupiah pada posisi kurs jual 14.137 dan kurs beli 13.997.

Berikut data kurs dari beberapa Bank:
Mata UangKurs Dollar Bank
BIMandiriBCABNIPaninCIMBOCBC
25/08/15
11:50
25/08/15
08:50
25/08/15
13:10
25/08/15
08:50
25/08/15
13:10
25/08/15
09:50
25/08/15
11:50
Bank NotesDD/TT
(USD)
US Dollar
Beli13.997,00 (+69,00)13.896,0013.920,0014.055,0013.995,0014.045,0014.000,0013.970,00
Jual14.137,00 (+69,00)14.110,0014.220,0014.085,0014.145,0014.095,0014.120,0014.120,00

Sementara pada perdagangan siang ini rupiah sempat menyentuh posisi 14.084,6.

Rupiah masih berpeluang untuk turun lagi. Berdasarkan prediksi rupiah akan kembali memlemah pada penutupan perdagangan sore ini. (UAK)

Senin, 24 Agustus 2015

IHSG Ditutup Anjlok 4%, Dolar Bertahan di Rp 14.000



Be Bi Pro News, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok nyaris 4% akibat tekanan jual masih sejak pembukaan perdagangan. Buruknya sentimen ekonomi dunia membuat investor melepas saham.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah di posisi Rp 14.040 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu di Rp 13.940 per dolar AS.

Mengawali perdagangan pagi tadi, IHSG ambruk 94,646 poin (2,18%) ke level 4.241,307 akibat aksi jual masif. Kekhawatiran melambatnya ekonomi global membuat investor memilih jual saham.

Posisi terendah yang sempat disinggahi IHSG ada di level 4.111,112. Tekanan jual marak dilakukan investor asing.

Pada penutupan perdagangan Sesi I, IHSG terjun bebas 189,576 poin (4,37%) ke level 4.146,377. Aksi jual masih investor terus berlanjut hingga penutupan perdagangan Sesi I.

Saham-saham unggulan jadi sasaran aksi jual. Tak satu pun indeks sektoral yang bisa menguat sampai penutupan perdagangan sore ini.

Mengakhiri perdagangan awal pekan, Senin (24/8/2015), IHSG ditutup menukik tajam 172,224 poin (3,97%) ke level 4.163,729. Sementara Indeks LQ45 ditutup jatuh 35,020 poin (4,82%) ke level 692,205.

Transaksi investor asing hingga sore hari ini tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 734,21 miliar di seluruh pasar.

Perdagangan hari ini berjalan cukup ramai, dengan frekuensi transaksi sebanyak 311.271 kali dengan volume 5,461 miliar lembar saham senilai Rp 5,733 triliun. Sebanyak 29 saham naik, 277 turun, dan 64 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia menutup perdagangan dengan kompak melemah. Aksi jual masif membuat koreksi pasar saham Asia sangat dalam, rata-rata lebih dari tiga persen.

Berikut situasi dan kondisi bursa regional sore ini:

Indeks Nikkei 225 anjlok 895,15 poin (4,61%) ke level 18.540,68.
Indeks Hang Seng jatuh 1.158,05 poin (5,17%) ke level 21.251,57.
Indeks Komposit Shanghai terjun bebas 297,84 poin (8,49%) ke level 3.209,91.
Indeks Straits Times jeblok 117,11 poin (3,94%) ke level 2.853,90.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Elang Mahkota (EMTK) naik Rp 600 ke Rp 10.600, Indofood CBP (ICBP) naik Rp 200 ke Rp 12.650, AKR Corporindo (AKRA) naik Rp 100 ke Rp 5.600, dan Indosat (ISAT) naik Rp 90 ke Rp 4.080.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 3.550 ke Rp 41.450, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 3.500 ke Rp 74.500, Unilever (UNVR) turun Rp 1.600 ke Rp 34.000, dan United Tractor (UNTR) turun Rp 1.500 ke Rp 17.100.





Sumber: Detik.com

Dolar AS Tembus Rp 14.000, Pedagang: Nggak Kuat Kalau Begini Terus



Be Bi Pro News, Jakarta - Hari ini nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tembus Rp 14.000. Bisnis yang mengandalkan barang impor seperti elektronik termasuk laptop dan ponsel turut kena imbas. Penjual mengeluhkan naiknya harga produk yang dijualnya diikuti lesunya daya beli masyarakat.

"Nggak kuat kalau dolar begini naik terus. Juli-Agustus bener-bener dagangan sepi. Nggak ada pengunjung. Sehari ini aja jualan belum ada yang laku satupun," keluh Dewi seorang karyawati toko ponsel Timor Cellular, ditemui di Atrium Plaza,Jakarta Pusat, Senin (24/8/2015).

Dewi menceritakan lesunya penjualan bulan ini dibanding bulan-bulan sebelumnya. "Bulan ini baru laku 5handphone. Kalo ramai sebulan bisa jual 10-15 handphone," imbuhnya.

Dewi mengatakan, harga ponsel di gerainya rata-rata naik Rp 100.000/unit sementara pembeli tetap menawar dengan harga lama. "Per barang naik modalnya rata-rata Rp 100.000/item. Pembeli nggak mau tahu, pake harga lama aja," kata Dewi.

Selain gerai penjualan ponsel, gerai elektronik lainnya seperti laptop pun mengeluhkan naiknya harga dan merosotnya pembeli selama Juli-Agustus ini. 

"Kerasa banget, kita modal buat nyetok dari distributor jadi naik terutama Agustus ini," ungkap Wati karyawati di gerai penjualan laptop Atrium Computer, Senen, Jakarta Pusat.

Wati mengaku, harga laptop maupun aksosorisnya seperti tinta dan toner naik 10-20%. "Tinta bulan ini harga naik Rp 15.000-30.000 rata-rata dari Rp 120.000 jadi Rp 135.000. Kalau laptop rata-rata naik Rp 200.000/item dari harga rata-rata Rp 3-4 jutaan," jelas Wati.

Menurutnya, naiknya harga dua bulan ini diikuti dengan turunnya daya beli. "Bulan-bulan ini harga Kerasa banget naik ngikutin kurs dolar. Penjualan bulan ini lesu sepi banget. Untungnya laptop ketolong kebutuhan musim masuk sekolah dan kuliah jadi tetep ada aja yang beli," tambah Wati.

Tokonya pun beberapa bulan terakhir tidak bisa lagi menggelar promo diskon atau cash back. "Beberapa bulan ini nggak ada promo kan harganya malah naik. Kita terasa harus ngurangin jumlah order ke distributor. Lihat betul stok di toko, nggak bisa beli untuk nyetok. Toko-toko di Mangga Dua juga pada ngeluh dolar tinggi," terangnya.





Sumber: Detik.com